💌 Bab 1 ❥ 7 Mei
【POV Takumi Fujimiya】
Suara alarm berbunyi.
Aku bangun dan mematikannya.
...
"Hm?"
Kenapa aku... tidur di kamarku sendiri?
Bukannya tadi aku bersama Honoka...?
...
Aku pulang kapan?
Dan lagi...
Hah?
Balasan pengakuan cintaku itu bagaimana...?
Aku tidak ingat.
Jangan-jangan karena terlalu syok setelah ditolak, aku pingsan begitu sampai rumah...?
Tidak, tidak mungkin separah itu.
...
Aku mengambil ponsel dan memeriksanya.
...
Tidak ada pesan apa pun dari Honoka.
Pukul menunjukkan 07.02. Dan tanggalnya—
7 Mei?
Hari kerja setelah libur Golden Week berakhir... yang berarti sampai kemarin masih masa liburan.
Dengan kata lain, hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah sekian lama.
Kemarin, dalam perjalanan pulang, aku menyatakan perasaanku kepada Honoka.
Tidak mungkin.
Karena kemarin itu hari libur.
...
Kalau begitu berarti?
"...Cuma mimpi? Yang benar saja..."
Tanpa sadar aku mengumpat pelan.
Jantungku masih berdetak lebih cepat dari biasanya karena rasa gugup saat mengingat pengakuan cinta itu.
Kalau memang cuma mimpi, setidaknya tunjukkan sampai bagian akhirnya, dong. Jangan berhenti di tengah jalan begini...
Yah, namanya juga mimpi.
Tapi tetap saja...
Mimpi itu terasa terlalu nyata.
Bukan seperti mimpi pada umumnya yang penuh kejanggalan atau hal yang tidak masuk akal.
Aku benar-benar menjalani satu hari yang biasa, persis seperti kenyataan.
Begitulah rasanya.
"Tak-kun! Sudah bangun belum~?"
Terdengar suara Ibu dari luar kamar.
Aku menjawabnya, lalu turun dari tempat tidur.
Setelah keluar kamar dan mampir ke toilet, aku menuju dapur.
Aku mengucapkan, "Selamat pagi," kepada Ibu sambil membuka kulkas.
"Mau makan natto?"
"Boleh. Tolong panaskan nasinya juga."
Setelah berkata begitu, Ibu yang tampak sibuk segera keluar dari ruangan.
Aku mengambil nasi beku dari freezer lalu langsung memasukkannya ke microwave.
Sambil menunggu nasi hangat, aku mengaduk natto.
Begitu pemanasannya selesai, nasi kupindahkan ke mangkuk, lalu natto yang lengket dan kental kutuangkan di atasnya.
Setelah itu, aku duduk di kursi langgananku di ruang keluarga.
"Itadakimasu."
Sarapanku hanya itu.
Ibu sibuk bersiap-siap untuk bekerja, dan aku juga bukan tipe yang bisa makan banyak di pagi hari, jadi tidak perlu makanan yang terlalu rumit.
Ayah biasanya berangkat kerja lebih siang daripada Ibu dan selalu tidur sampai detik-detik terakhir sebelum berangkat, jadi kami jarang bertemu di pagi hari.
Inilah pagi yang biasa di rumahku—keluarga Fujimiya.
"Itadakimasu."
Setelah selesai sarapan, aku mencuci piring lalu menuju kamar mandi.
Aku menyikat gigi dengan teliti, mencuci muka, lalu merapikan rambut.
Setelah kembali ke kamar, aku mengenakan seragam sekolah dan memastikan tidak ada barang yang tertinggal.
Baiklah.
Saatnya berangkat.
"Berangkat dulu."
Dengan ucapan "Hati-hati di jalan" dari Ibu di belakangku, aku meninggalkan rumah.
Perjalanan ke stasiun terdekat memakan waktu belasan menit jika ditempuh dengan berjalan santai. Jaraknya sebenarnya cukup jauh hingga membuatku ingin naik sepeda, tapi aku sengaja berjalan kaki untuk mengusir rasa kantuk di pagi hari.
Di tengah jalan, aku mampir ke minimarket untuk membeli teh dan makan siang.
Karena toko sedang ramai, aku jadi kehilangan cukup banyak waktu. Aku pun mempercepat langkah menuju stasiun.
Setelah melewati gerbang tiket, aku berjalan menuju peron dan bergerak ke arah gerbong paling depan.
Di ujung peron, Honoka sedang berdiri menunggu.
Begitu melihatku, wajahnya langsung berseri-seri.
"Selamat pagi, Takumi-kuuun~"
"Pagi."
Kami saling menyapa lalu berdiri berdampingan.
"Huff..."
Honoka mengembuskan napas panjang sambil mengipasi wajahnya dengan tangan.
"Hari ini panas banget, ya? Rasanya bukan awal musim panas lagi, tapi sudah kayak pertengahan musim panas."
"Katanya suhu bakal terus naik selama beberapa hari ke depan."
"Uwaaah... parah banget."
Di sekolah kami, aturan seragam tidak terlalu ketat sehingga cukup banyak murid yang memakainya dengan gaya bebas.
Namun mungkin karena pada dasarnya Honoka adalah orang yang serius, ia selalu mengenakan seragam dengan rapi: blazer lengkap dengan rompi resmi sekolah.
Memang rok yang dipakainya sedikit lebih pendek sehingga terlihat cukup sejuk, tetapi untuk bagian atas tubuh, dengan suhu seperti sekarang, pasti terasa cukup menyiksa.
Honoka mengerutkan wajahnya.
Aku mengira dia akan melepas blazernya, tetapi ternyata dia hanya membuka satu kancing di bagian dada lalu mulai mengipas-ngipaskan bagian dalam kemejanya.
Tanpa sadar pandanganku tertuju ke sana, dan aku buru-buru mengalihkannya.
Honoka memang cenderung lengah, atau mungkin lebih tepatnya kurang waspada dalam gerak-geriknya.
Padahal ini sudah sering terjadi. Seharusnya aku bisa bersikap biasa saja, tetapi setiap kali melihatnya, aku tetap sedikit gugup.
Apalagi hari ini, setelah mimpi aneh itu.
Aku jadi lebih sadar akan keberadaannya daripada biasanya...
"Ah, gawat. Krim tanganku kebanyakan keluar. Nih, kubagi sedikit ke Takumi-kun~"
Honoka meraih tanganku lalu mengoleskan sisa hand cream ke punggung tanganku.
Dia memang sering melakukan hal seperti ini.
Benar-benar tanpa maksud apa-apa.
Bukan karena ada niat tersembunyi atau apa pun. Dia hanya melakukannya secara alami.
Tapi serius deh...
Tolong jangan lakukan hal seperti ini ke cowok lain selain aku.
"Takumi-kun, makan siangmu hari ini juga roti?"
"Hm? Ah, iya."
"Aku tebak, deh. Yakisoba-pan sama roti krim, kan?"
"Salah. Onigiri tuna mayo sama okaka."
"Itu kan onigiri! Curang! Aku ketipu!" 😤
Honoka langsung memprotes dengan nada kesal.
Sambil mengobrol hal-hal sepele seperti itu, kereta akhirnya tiba.
Kami naik ke dalam dan berdiri di dekat pintu di sisi seberang.
"Takumi-kun, bukannya sampai tahun lalu kamu selalu beli makan siang di kantin sekolah?"
"Sejak naik kelas, lokasi kantinnya jadi agak jauh, kan? Kalau telat sedikit saja, antreannya bisa panjang banget..."
"Ah, makanya sekarang kamu beli di minimarket?"
"Iya. Lagipula harganya juga tidak jauh beda."
Sambil mengobrol tanpa tujuan yang jelas, aku merasakan sensasi yang aneh.
Entah kenapa terasa janggal.
Atau mungkin lebih tepatnya... seperti déjà vu.
Rasanya aku pernah mengalami percakapan yang persis sama seperti ini.
Atau mungkin tidak.
Tapi karena aku dan Honoka memang sering mengobrol asal ceplos tentang apa saja yang terlintas di kepala, topik yang sama muncul berulang kali bukanlah hal yang aneh.
Sambil memikirkan hal itu di sudut pikiranku, aku terus bergoyang mengikuti laju kereta selama sekitar sepuluh menit.
Setelah turun, kami langsung menaiki tangga yang berada tak jauh dari sana lalu berpindah ke peron jalur lain.
"Kalau begitu, sampai nanti ya, Takumi-kun."
Untuk sementara, kami berpisah di sini.
Honoka berjalan ke arah teman-temannya yang menunggu di bagian belakang peron.
Sedangkan aku melangkah ke arah sebaliknya.
Sebenarnya kami bisa saja pergi ke sekolah bersama sampai tujuan.
Namun tanpa sadar, sejak kapan tahu beginilah kebiasaan kami.
Meski selama ini tidak terlalu kupikirkan, sekarang setelah aku menyadari perasaanku pada Honoka, berkurangnya waktu yang bisa kami habiskan berdua terasa sedikit menyedihkan.
Apa karena akhir-akhir ini aku terus memikirkan hal seperti itu, makanya aku sampai bermimpi aneh tadi pagi...?
Aku menelan kembali helaan napas yang hampir keluar, lalu berhenti di tempat biasanya aku menunggu.
Saat itulah seseorang menepuk bahuku dari belakang.
"Yo, Fujimiya."
"Yo."
Watanuki, teman sekelasku, berdiri di sampingku.
"Eh, Fujimiya. Aku ada permintaan nih."
Sambil berkata begitu, dia menunjukkan layar ponselnya kepadaku.
Di sana terpampang layar gacha dari game mobile yang sedang dia mainkan.
"Bisa nggak, kamu yang pencet tombol ini buatku?"
"Tarik sendiri sana."
"Kalau aku yang narik pasti zonk! Sepuluh kali gacha terakhirku kuserahkan padamu! Tolonglah!"
"Jangan protes kalau hasilnya jelek..."
Aku mengulurkan jari dengan enggan.
Namun tepat sebelum menyentuh layar...
"...Tunggu dulu. Percakapan ini..."
"Hah? Tunggu apaan? Eh, bentar. Wangi banget. Kenapa kamu baunya kayak cewek?" 😳
"Hand cream. Dikasih Honoka."
"Uwaaah, pamer kemesraan nih?"
"Apanya yang pamer? Sudah, cepat. Nih, aku pencet."
Aku menekan tombol gacha sepuluh kali.
Animasi gacha pun mulai berjalan.
"Aaaahhh! Sialaaaan!"
Watanuki berteriak sambil memegangi kepalanya.
Sepertinya...
Dia gagal mendapatkannya.
Bukan cuma karakter rarity tertinggi, hasilnya bahkan cuma berisi hadiah jaminan minimum yang menyedihkan.
...
Aku pernah melihat ini.
"......Makasih ya, Fujimiya. Hidupku sudah berakhir."
"Jangan ngeluh."
"Kan aku nggak ngeluh. Haaah... seriusan nih? Nggak keluar juga..."
Watanuki menatap layar ponselnya dengan mata kosong.
...
Aku pernah melihat ini.
Ekspresi itu.
Aku juga pernah melihatnya.
Kalau dipikir-pikir, alur kejadian ini...
"Eh, eh, Fujimiya. Nggak usah merasa bertanggung jawab gitu juga kali."
"Eh?"
Aku refleks menoleh.
Tanggung jawab?
Kenapa dia bilang begitu?
Aku sama sekali belum mengatakan apa pun.
Seolah-olah dia tahu apa yang sedang kupikirkan.
"Karena wajahmu serius banget. Bercanda kali. Aku nggak sedih kok. Nggak sedih..."
"Suaramu lemas banget..."
"Nggak, serius. Cuma bercanda. Bercanda kok..."
Dengan senyum tipis yang nyaris menghilang, Watanuki kembali menatap layar ponselnya.
...
Akhirnya aku tahu sumber perasaan janggal ini.
Sama seperti dalam mimpi.
Percakapanku dengan Honoka tadi, juga situasi yang sedang terjadi sekarang.
Di dalam mimpi itu, Honoka juga membagi hand cream miliknya kepadaku.
Dan aku juga gagal mendapatkan karakter gacha milik Watanuki.
Kalau setelah ini semuanya masih sama seperti di mimpi...
Kalimat berikutnya yang akan diucapkan Watanuki seharusnya adalah:
"Kalau bisa ngumpulin sedikit lagi batu gacha, mungkin masih ada harapan..."
"Sial... kalau bisa ngumpulin sedikit lagi batu gacha, mungkin masih ada harapan..."
...
Apa-apaan ini?
Mulai terasa menyeramkan.
Jangan-jangan mimpi itu benar-benar menjadi kenyataan...?
Tidak, itu mustahil.
Mungkin aku hanya bermimpi sesuatu yang mirip, lalu tanpa sadar mengira semuanya sama persis dengan kenyataan.
Tapi tunggu dulu.
Bahkan fakta bahwa aku bisa memimpikan sesuatu yang begitu mirip dengan kenyataan saja sudah aneh.
Dan yang lebih aneh lagi, aku masih mengingat isi mimpi itu dengan sangat detail.
...Apa sebenarnya yang sedang terjadi?
"Fujimiya, ngapain bengong? Keretanya sudah datang tuh."
"Ah, iya..."
Panggilan Watanuki membuatku tersadar.
Dengan perasaan yang masih dipenuhi kebingungan, aku pun naik ke dalam kereta.
Namun keanehan itu tidak berhenti sampai di situ.
Saat homeroom pagi dimulai—
"Heeey, cepat duduk di tempat masing-masing—HACCIIIH!"
Begitu masuk ke kelas, wali kelas langsung bersin dengan suara yang luar biasa keras hingga seluruh kelas tertawa.
Lalu pelajaran pertama, Matematika.
Pelajaran kedua, Bahasa Jepang Modern.
Pelajaran ketiga, Bahasa Inggris.
Isi pelajarannya.
Siapa yang ditunjuk menjawab pertanyaan.
Lelucon guru yang sebenarnya tidak terlalu lucu.
Bahkan pekerjaan rumah yang diberikan.
Semuanya sama persis seperti dalam mimpiku.
Dan sekarang, saat jam istirahat setelah pelajaran ketiga berakhir.
Kalau isi mimpiku masih terus berlanjut...
Saat berpindah kelas, seharusnya seorang guru akan memanggilku.
"Oi, Fujimiya!"
Aku langsung menegang dan berhenti melangkah.
Lalu menjawab panggilan itu.
"Iya, ada apa, Sensei?"
"Untuk pelajaran olahraga jam kelima, lokasi dipindah ke gym. Jadi tolong sampaikan ke teman-teman, ya."
"Baik, Sensei."
Semuanya berjalan persis mengikuti isi mimpiku...
Kejadian-kejadian pagi tadi atau permintaan dari guru mungkin masih bisa dianggap sebagai kebetulan.
Namun isi pelajarannya juga sama persis.
Itu jelas tidak masuk akal.
Lagi pula, bukankah mimpi biasanya penuh hal-hal aneh dan tidak masuk logika?
Misalnya guru tiba-tiba berubah menjadi karakter manga, atau saat sedang mengerjakan soal matematika tiba-tiba tanpa alasan mulai memasak ramen.
Bahkan jika mimpi itu kebetulan sangat realistis, tetap saja mustahil bagiku mengetahui isi pelajaran yang belum dipelajari, apalagi mengingat kata-kata guru sampai sedetail itu.
Ini benar-benar seperti mimpi yang meramalkan masa depan...
Aku sendiri merasa pemikiran itu konyol.
Tapi mau bagaimana lagi? Kenyataannya, apa yang kulihat dalam mimpi dan apa yang terjadi sekarang benar-benar cocok satu per satu.
Masih belum tahu harus menerima kenyataan ini seperti apa, aku akhirnya tiba di kelas.
Aku duduk di kursiku, lalu melirik ke samping.
Di sana duduk seorang siswi yang sudah sangat kukenal.
Dengan dagu bertumpu di telapak tangan, dia tampak bosan menunggu pelajaran berikutnya dimulai.
Ayasaki Nanami.
Sama seperti Honoka, Ayasaki adalah teman yang sudah kukenal sejak sekolah dasar.
Namun berbeda denganku yang cukup akrab dengan Honoka, hubunganku dengan Ayasaki tidak sedekat itu.
Kami berada di kelas yang berbeda, dan hanya bertemu saat pelajaran yang dibagi berdasarkan tingkat kemampuan seperti sekarang.
Biasanya kami bahkan tidak saling menyapa, apalagi mengobrol.
Meski begitu, bukan berarti hubungan kami buruk.
Ayasaki hanyalah tipe orang yang suka menyendiri.
Entah karena ekspresinya selalu datar, atau karena auranya yang dingin, dia jarang sekali tersenyum. Tatapannya juga tajam sehingga membuat orang sulit mendekat.
Dan sepertinya Ayasaki sendiri memang lebih suka sendirian daripada berada di tengah keramaian. Dia bukan tipe yang aktif mengajak orang lain berbicara.
Bahkan dalam kelas ini pun, aku hampir tidak pernah melihatnya mengobrol dengan dua siswa lain yang berada di kelompok yang sama.
Bukan karena dia memaksakan diri.
Dia memang benar-benar nyaman sendirian.
Terlalu mandiri, sampai-sampai tidak membutuhkan orang lain.
Begitulah kesan Ayasaki sejak kami masih SD.
Karena itu, aku tidak pernah berniat bersikap terlalu akrab dengannya dan biasanya juga tidak pernah mengajaknya bicara.
Tapi kali ini berbeda.
Entah karena rasa penasaran atau mungkin karena keinginan untuk membangkang.
Aku ingin mencoba apa yang akan terjadi jika melakukan sesuatu yang berbeda dari isi mimpiku.
"Hei, Ayasaki."
Begitu kupanggil, Ayasaki menoleh dengan sedikit ekspresi terkejut.
"Ada apa?"
Aku mengawali dengan mengatakan bahwa ceritaku mungkin terdengar aneh, lalu mulai menjelaskan soal mimpi yang bisa meramalkan masa depan itu.
Ayasaki langsung menyipitkan mata.
Dengan nada lesu, dia berkata,
"Kamu jadi gila, ya?"
Satu kalimat yang benar-benar tajam.
...
Dingin sekali tatapan itu...
...
Ah, benar juga.
Ayasaki memang tipe orang yang selalu berbicara terus terang tanpa sungkan.
"Tunggu sebentar. Aku bisa membuktikannya."
Aku mati-matian mencoba mengingat kembali isi mimpiku.
Kalau aku bisa menebak apa yang akan terjadi setelah ini, Ayasaki pasti akan percaya.
Memang mustahil mengingat tindakan setiap siswa satu per satu, tapi sebentar lagi akan terjadi sebuah kejadian kecil yang cukup mudah kuingat.
"Sensei Yokota biasanya masuk kelas tepat setelah bel berbunyi, kan?"
Ayasaki tampaknya sudah kehilangan minat. Dia bahkan tidak menjawab, hanya kembali menopang pipinya sambil menatap papan tulis kosong.
Aku tetap melanjutkan.
"Hari ini Sensei tidak akan datang. Setelah bel berbunyi... mungkin sekitar lima menit kemudian. Akan ada guru lain yang masuk dan menyuruh kita belajar mandiri."
Ayasaki melirikku sekilas.
Lalu, dengan sengaja menghela napas panjang dan mulai memainkan ponselnya.
...
Tidak apa-apa.
Lihat saja nanti.
Beberapa menit kemudian, bel berbunyi.
Sesuai prediksiku, Sensei Yokota tidak muncul.
Ekspresi Ayasaki sedikit berubah tegang.
Lalu beberapa menit setelahnya, seorang guru lain masuk ke kelas, memberi instruksi untuk belajar mandiri, dan segera pergi lagi.
Ayasaki tampak terkejut.
Aku langsung memasang senyum puas penuh kemenangan.
Melihat itu, Ayasaki menggigit bibirnya dengan kesal.
"Apa..."
"Tolong hentikan ekspresi itu. Nyebelin."
"Tuh kan? Aku benar, kan?" 😏
"Sensei Yokota kenapa, ya?"
"Entahlah. Aku juga nggak tahu detailnya."
"Hmm..."
"Tunggu, aku sudah menebak bakal ada jam belajar mandiri. Itu saja harusnya sudah cukup, kan? Aku bukan asal menebak, lho."
"Bukannya aku nggak percaya, tapi..."
Ayasaki menghela napas kecil, lalu membuka buku latihan soal sebelum melanjutkan.
"Terlepas itu benar-benar mimpi yang bisa melihat masa depan atau bukan, bukankah ada kemungkinan kecil sekali di mana mimpi dan kenyataan kebetulan cocok?"
"Jadi menurutmu ini cuma kebetulan?"
"Kamu serius percaya kalau tiba-tiba mendapatkan kekuatan super?"
"Makanya aku cerita karena aku sendiri juga nggak tahu. Kalau ini cuma kebetulan pun tetap menyeramkan, kan? Bayangkan saja, aku sudah mengikuti pelajaran yang baru akan diajarkan hari ini di dalam mimpi."
"Aku sih bisa mengerti perasaanmu. Tapi kenapa kamu menceritakan hal ini kepadaku?"
"Karena kamu tipe orang yang berpikir logis, kan? Aku berharap kamu bisa memberiku jawaban."
"Nggak mungkin. Kalau soal mimpi yang bisa melihat masa depan, mana mungkin aku bisa menjelaskannya secara logis."
"Ya, benar juga."
Aku tertawa kecil.
"Selain itu... kurasa aku cuma ingin mengobrol denganmu lagi setelah sekian lama."
"Hah?"
"Padahal kita sudah saling kenal lama, tapi hampir tidak pernah bicara, kan? Jadi aku pikir sesekali nggak ada salahnya."
Ayasaki memperlihatkan ekspresi yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, lalu memalingkan wajahnya.
"Memang dari dulu bagian itu dari dirimu... serius deh..."
"Hah? Maksudmu apa?"
"Berisik. Sana belajar."
Sesuai perkataannya, kalau diteruskan kami hanya akan mengganggu yang lain. Aku pun memutuskan untuk mulai belajar.
Tapi...
Aku sudah mengerjakan semua ini di dalam mimpi.
Seharusnya aku percaya pada mimpi itu dan membawa buku pelajaran mata pelajaran lain.
Karena tidak ada semangat untuk mengerjakan hal yang sama dua kali, aku hanya berpura-pura belajar sambil tenggelam dalam pikiranku sendiri.
Kalau semuanya terus berjalan sesuai mimpi...
Maka sepulang sekolah hari ini, aku akan menyatakan perasaanku kepada Honoka.
Sebenarnya, soal mengungkapkan perasaan itu sudah lama kupikirkan.
Suatu saat nanti.
Nanti saja kalau ada kesempatan.
Begitulah selama ini.
Sejak kapan aku mulai menyukai Honoka?
Dan sebenarnya, apa itu cinta?
Belakangan ini aku sering memikirkan pertanyaan-pertanyaan kekanak-kanakan seperti itu.
Aku melirik ke arah Honoka.
Aku tidak menyangka pandangan kami akan bertemu.
Jantungku langsung berdebar.
Honoka tersenyum kepadaku.
Aku membalas dengan senyum kecut, lalu buru-buru mengalihkan pandangan.
Namun perhatianku tetap tertuju padanya.
Karena tidak ada guru di kelas, semua orang sudah lengah.
Tak seorang pun benar-benar fokus belajar mandiri; mereka lebih sibuk mengobrol dengan teman-temannya masing-masing.
Sementara tetap serius belajar, Honoka juga meladeni teman-temannya yang mengajaknya mengobrol.
"Disuruh belajar mandiri mendadak begini juga susah, ya~. Kira-kira Sensei Yokota kenapa, ya? Yuk tebak-tebakan. Mulai dari Honoka."
"Eh~? Kenapa harus aku? Mungkin telat datang?"
"Itu terlalu biasa. Nggak lucu sama sekali."
"Jangan berharap aku bisa melucu dong. Aku nggak jago improvisasi."
Kelompok tempat Honoka bergaul mungkin bisa dibilang kelompok anak-anak populer.
Karena kemampuan bersosialisasinya memang tinggi, Honoka sering bersama teman-teman yang kepribadiannya mirip dengannya.
Dan bahkan di antara mereka, Honoka termasuk yang paling menonjol.
Tanpa memandangnya dengan kacamata cinta sekalipun, Honoka memang cantik.
Menurutku bentuk tubuhnya juga sangat bagus.
Bahkan kalau ada yang bilang setara model gravure, rasanya itu bukan berlebihan.
Dan setiap kali menyadari hal itu, perasaanku jadi rumit.
Aku tidak ingin memandang Honoka hanya dari sisi fisiknya.
Tapi pada kenyataannya, mataku tetap sering tertarik ke arahnya.
Sama seperti tadi pagi...
Dan aku juga harus mengakui bahwa bagian seperti itu memang termasuk salah satu hal yang membuatku tertarik padanya.
Apa aku menyukai Honoka karena penampilannya sesuai tipeku?
Aku ingin menyangkalnya.
Namun ada bagian dalam diriku yang tidak bisa sepenuhnya menyangkal hal itu.
"Aku tahu lho penyebab Sensei Yokota."
Salah satu teman laki-laki di kelompok Honoka tiba-tiba berkata demikian.
Seorang siswa laki-laki yang duduk di dekat mereka ikut menyela percakapan.
Mungkin mereka tidak terlalu akrab. Salah satu teman Honoka bahkan memasang ekspresi seolah ingin berkata, "Tiba-tiba apa-apaan sih dia?"
Namun Honoka tetap menanggapinya dengan sikap yang sama seperti kepada siapa pun.
"Eh, Yuasa-kun tahu? Cerita dong, cerita dong~"
"Katanya sih sebentar lagi bakal punya anak. Mungkin karena itu."
"Hah? Sensei Yokota masih lajang, kan? Kalau mau ngarang ya yang masuk akal sedikit."
"Eh, Nana-chan, komentar kamu tajam banget. Nusuk, tahu. Coba lebih lembut sedikit."
"Kan yang bakal nikah sama Sensei Yokota itu aku!"
"Boong! Kamu aja nggak suka yang lebih tua! Justru Nana-chan yang asal ngomong!"
Honoka menenangkan temannya yang mulai kesal karena percakapannya disela, lalu dengan santai mengembalikan suasana yang hampir memanas menjadi hangat kembali.
Mungkin karena bisa melakukan hal seperti itu secara alami, Honoka begitu disukai semua orang.
Dan satu hal lagi.
Honoka selalu memanggil orang lain dengan nama mereka.
Dia tidak pernah memakai sebutan seperti "kamu", "dia", atau "orang itu" sembarangan.
Begitu juga denganku.
Setiap pagi, sapaan yang selalu kudengar darinya adalah:
"Selamat pagi, Takumi-kun."
Mungkin terdengar sepele.
Tapi aku selalu merasa sikap sopan dan perhatian seperti itu adalah sesuatu yang patut kuteladani.
Apakah aku jatuh cinta pada kepribadian Honoka?
Untuk pertanyaan itu, aku bisa menjawab dengan yakin:
Ya.
Siapa pun bisa langsung akrab dengannya.
Itulah salah satu kelebihan terbesar Honoka...
Tapi justru karena itulah aku merasa khawatir.
Menurut Watanuki, kesan para cowok terhadap Honoka kurang lebih seperti ini:
"Bukannya dia gampang didekati atau suka kasih harapan palsu, lho. Malah sebaliknya, dia cukup menjaga jarak. Tapi cara dia ngobrol itu akrab banget, kan? Dia bahkan manggil kita pakai nama. Terus tanpa sadar kita jadi mikir, 'Eh? Jangan-jangan dia suka sama gue?' Ada momen-momen yang bikin kita berpikir begitu. Sampai muncul pikiran, 'Kayaknya gue punya peluang nih.'"
...Kurang lebih begitu katanya.
Dan aku benar-benar setuju.
Lingkaran pertemanan Honoka memang sangat luas.
Bukan cuma bisa bergaul dengan kelompok anak-anak populer, dia juga mampu membaur dengan mudah ke kelompok otaku yang sifatnya bertolak belakang.
Dia tidak pernah membuat sekat, baik terhadap perempuan maupun laki-laki.
Kalau soal dirinya sendiri, mungkin tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Masalahnya justru ada pada pihak laki-laki.
Honoka tidak menyadari betapa menariknya dirinya.
Karena itu, dia sering kali memperlihatkan sisi dirinya yang tanpa pertahanan.
Coba bayangkan.
Ada gadis cantik yang terlihat santai dan nyaman di hadapanmu.
Cowok mana yang nggak bakal baper?
Jatuh hati itu gampang.
Sangat gampang.
Dan lihat saja sekarang.
"Lumayan khawatir juga sih. Soalnya belum pernah terjadi hal seperti ini sebelumnya."
“Eh... ? Jadi Honoka juga naksir Pak Yokota...?”
“Nggak juga. Sampai kapan sih kamu mau ngelak gitu?”
Saat Honoka tertawa sambil menyilangkan kaki, roknya terangkat dengan berani.
Honoka sedang asyik ngobrol dan nggak sadar.
Tapi cowok-cowok pasti lihat. Mereka jeli banget menangkap momen lengah kayak gitu!
Untungnya celana dalamnya tidak terlihat... tapi paha saja sudah cukup! Bagi pria remaja!
Honoka sendiri sangat tidak suka dengan lelucon kotor atau hal-hal mesum, sampai-sampai dia mengerutkan wajah saat melihat adegan mesra di film atau drama.
Jadi, dia sama sekali tidak bermaksud memamerkan diri. Dia hanya tidak waspada saja.
Aku harap dia lebih berhati-hati. Sungguh. Aku juga berharap dia lebih sadar akan jarak.
Ugh. Setiap kali melihat Hono-ka seperti itu, aku jadi merasa seperti kakak laki-lakinya, atau bahkan ayahnya...
Hal seperti krim tangan pagi ini, tentu saja tidak kulakukan pada cowok lain. ...... Setidaknya, aku ingin percaya begitu. Tapi kalau ternyata kulakukan, itu sama saja dengan teror tanpa pandang bulu. Cowok yang nggak populer bakal langsung jatuh cinta.
Gadis bernama Mahakabe Honoka ini, entah lawan bicaranya siapa pun, selalu mendekat dengan ramah dan akrab. Lalu dia menunjukkan sikap polosnya tanpa sadar.
Dengan begitu, tanpa disadari, dia menciptakan banyak orang yang salah paham. Wajar kalau dia sering diajak kencan. Berkali-kali.
Saat aku mulai sadar bahwa Honoka ternyata populer di kalangan lawan jenis, mungkin itu terjadi saat SMP.
Dia sering ditembak, kira-kira sekali setiap beberapa bulan. Dan setiap kali itu terjadi, aku hanya berpikir, "Wah, repot juga ya harus menolak satu per satu." Saat itu aku menganggapnya urusan orang lain.
Tapi... sejak kapan ya?
Sejak kapan setiap kali Honoka memberitahuku bahwa dia baru saja ditembak seseorang, atau saat aku mendengarnya dari orang lain, aku mulai merasakan ketidaknyamanan yang begitu kuat?
Membayangkan Honoka berpacaran dengan seseorang saja sudah membuat perasaanku sangat tidak enak.
Aku tidak ingin menyerahkannya kepada siapa pun.
Sejak kapan aku mulai berpikir seperti itu?
Aku sendiri tidak tahu.
Mungkin memang seperti itulah cinta kepada teman masa kecil yang sudah menemanimu selama bertahun-tahun.
Sebenarnya aku sudah menyukai Honoka sejak lama, hanya saja hatiku baru sekarang cukup dewasa untuk memahami apa itu cinta.
Mungkin memang sesederhana itu.
Jika mimpi ramalan itu benar-benar akan menjadi kenyataan...
Setidaknya aku ingin mengungkapkannya dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar terbawa suasana.
Sebenarnya tidak ada keharusan bagiku untuk mengikuti isi mimpi itu.
Tapi entah kenapa rasanya seperti sebuah petunjuk.
Baiklah.
Aku akan memantapkan tekad dan melakukannya sampai selesai.
...Kalau dipikir-pikir, diriku yang ada di dalam mimpi malah terlihat lebih tenang.
Ternyata mengungkapkan perasaan itu...
Seseram ini, ya.
Jantungku berdebar terlalu kencang sampai dadaku mulai terasa sakit.
【POV Makabe Honoka】
Fujimiya Takumi-kun adalah pahlawan yang menyelamatkanku saat aku berada di titik terendah dalam hidupku.
Orang yang paling kukagumi. Orang yang paling kuhormati di dunia ini.
Dan aku sampai bermimpi sesuatu yang terlalu muluk untuk diriku sendiri...
Bahwa orang seperti dia menyatakan perasaannya kepadaku.
Aku tidak sepadan dengan Takumi-kun. Tidak mungkin Takumi-kun menyukai orang sepertiku.
"Aku menyukaimu, Honoka."
Kata-kata yang tak akan pernah kudengar di dunia nyata.
Mustahil, memang. Tapi itu mimpi yang membahagiakan.
Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan.
Pukul tujuh lewat lima menit pagi.
Takumi-kun seharusnya sudah bangun sekarang.
Sulit menyamakan jam tidur kami, jadi setidaknya aku ingin bangun pada waktu yang sama dengannya.
Tapi karena itu, waktuku tidak banyak.
Pagi hari bagi seorang gadis selalu sibuk.
Aku menenggak habis smoothie spesial untuk sarapan.
Lalu buru-buru menyikat gigi dan mandi.
Mengeringkan rambut itu merepotkan. Tapi aku juga tidak mungkin menemui Takumi-kun tanpa membersihkan diri terlebih dahulu.
Dengan kecepatan maksimal, aku mengenakan seragam, lalu mengikat rambutku. Riasan tipis yang masih berada di batas aman agar tidak dimarahi guru pun kuselesaikan secepat mungkin.
Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal di dalam tas, aku melakukan pemeriksaan terakhir di depan cermin.
Hari ini poni depanku kurang rapi.
Aku belum puas, tapi waktuku sudah habis.
Aku keluar rumah dan bergegas menuju stasiun.
Biasanya Takumi-kun tiba di stasiun sekitar lima menit sebelum kereta datang.
Selisihnya paling banyak hanya sekitar tiga menit lebih cepat atau lebih lambat.
Karena itu, aku harus tiba setidaknya sepuluh menit lebih awal.
Kalau naik sepeda sebenarnya masih sangat sempat.
Tapi karena Takumi-kun berjalan kaki, aku juga berjalan kaki.
Atau lebih tepatnya, jalan cepat.
Aku menjaga kecepatan tepat di batas sebelum mulai berkeringat, lalu bergegas menuju stasiun.
Setelah melewati gerbang tiket, aku menuju posisi langgananku di peron.
Pura-pura memainkan ponsel hanyalah kamuflase.
Sebenarnya, seluruh perhatianku tertuju ke arah gerbang tiket agar bisa langsung menyadari kehadiran Takumi-kun begitu dia datang.
Ada sensasi menggelitik di kulitku.
Takumi-kun datang.
Tapi dia masih jauh.
Kalau aku langsung menyadarinya dari jarak sejauh ini, Takumi-kun mungkin akan merasa aneh.
Jadi aku menunggu sampai jaraknya terasa pas, lalu memasang ekspresi seolah baru menyadarinya saat itu juga dan menyapanya.
"Pagi, Takumi-kun~"
"Pagi."
Hari ini juga aku bisa berangkat sekolah bersama Takumi-kun.
Bahagia.
Tapi sesaat kemudian, sedikit rasa sepi melintas di hatiku.
Cara Takumi-kun mengucapkan "selamat pagi" berbeda sedikit dari yang ada di dalam mimpiku.
Ya, tentu saja mimpi itu tidak mungkin menjadi kenyataan...
Karena mimpinya terasa begitu nyata, aku jadi sempat berharap.
Padahal hal seperti itu mustahil terjadi.
"Hari ini panas banget, ya? Rasanya bukan awal musim panas lagi, tapi sudah seperti pertengahan musim panas."
Meski begitu, tanpa sadar aku malah mengikuti diriku yang ada di dalam mimpi.
Biasanya aku berusaha untuk tidak banyak mengeluh.
Tapi saat berada di depan Takumi-kun, aku jadi sedikit lebih manja.
Kurasa itu karena aku terlalu bergantung padanya.
Aku ingin dihibur.
Ingin mendengar kata-kata yang lembut darinya.
Ingin dia setuju dengan apa yang kukatakan.
Sisi kekanak-kanakan seperti itulah yang tanpa sadar muncul saat bersamanya.
"Aku harus memperbaiki sisi burukku ini."
"Takumi-kun, makan siangmu hari ini juga roti?"
"Hm? Ah, iya."
"Aku tebak. Roti yakisoba sama roti krim."
"Salah. Onigiri tuna mayo sama okaka."
"Lho, itu kan onigiri! Aku ditipu~!"
Bagaimana kalau aku buatkan bekal untukmu?
Kalimat yang setidaknya sekali ingin kuucapkan sebagai teman masa kecil.
Tapi tidak mungkin.
Kalau aku melakukannya, aku tidak akan bisa bangun pada waktu yang sama dengan Takumi-kun.
Lagi pula, Takumi-kun bukan tipe orang yang suka merepotkan orang lain atau menerima bantuan begitu saja.
Sekalipun aku mengatakannya, dia mungkin tidak akan senang.
"Kamu nggak tahu kalau jajaran roti di kantin sekolah sudah berubah, kan?"
"Serius? Rasanya jadi lebih enak setelah diperbarui?"
"Iya dong. Sekarang ada sandwich roast beef dan sandwich foie gras."
"Bohongnya gampang banget ketahuan..."
"Tapi sempat percaya, kan?"
"Kalau cuma sampai roast beef sih mungkin aku masih percaya."
"Yang roast beef itu beneran ada, lho."
"Serius?"
"Eh, serius?"
"Bohong."
"Honoka-saaaan..."
"Itu balasan karena tadi kamu juga bohongin aku~"
Bahkan di dalam kereta, aku tanpa sadar mengikuti percakapan yang terjadi di dalam mimpiku.
Jawaban Takumi-kun sebagian besar sama seperti di mimpi, tapi ada sedikit perbedaan.
Dan itu berarti...
Takumi-kun yang muncul dalam mimpiku ternyata belum sepenuhnya akurat.
Pemahamanku tentang dirinya masih kurang.
Rasanya kesal.
Tapi di sisi lain, aku belum pernah bermimpi seperti itu sebelumnya.
Jadi mungkin aku boleh berpikir positif.
Setidaknya aku sudah cukup memahami Takumi-kun sampai bisa mengobrol dengan versi dirinya yang cukup mirip di dalam mimpi.
"Kalau begitu, sampai nanti ya, Takumi-kun."
"Iya, sampai nanti."
Di stasiun transit, kami berpisah.
Padahal sebenarnya aku ingin terus bersamanya.
Mulai dari sini, jumlah siswa dari sekolah kami akan semakin banyak.
Kalau ada yang melihat kami berangkat sekolah bersama, Takumi-kun bisa terkena masalah.
Saat baru masuk SMA, pernah muncul rumor aneh.
Rumor yang mengatakan bahwa aku dan Takumi-kun berpacaran.
Mana mungkin.
Takumi-kun tidak mungkin mau berpacaran dengan orang sepertiku.
Satu-satunya orang yang akan senang mendengar rumor itu hanyalah aku.
Jadi aku benar-benar ingin rumor seperti itu berhenti.
Agar gosipnya tidak semakin menjadi-jadi, aku memakai alasan ingin pergi bersama teman-temanku, lalu sengaja naik kereta yang berbeda dengannya.
"Pagi, Yukki~"
"A-ah, pagi..."
Aku menyapa temanku yang berada di bagian belakang peron, lalu kami mengantre bersama.
Yukki adalah teman sesama otaku.
Pengetahuannya soal anime dan manga luar biasa luas, dan dia sering merekomendasikan banyak judul menarik kepadaku.
Saat naik ke kelas dua kami jadi berbeda kelas, tapi kami masih akrab sampai sekarang...
Setidaknya seharusnya begitu.
Namun setiap kali aku menyapanya, dia selalu terkejut sampai tubuhnya tersentak.
Kelihatannya sih bukan karena dia membenciku.
Jadi beberapa waktu lalu aku memberanikan diri untuk bertanya.
"Yukki, kenapa setiap kali ketemu reaksimu selalu seperti hubungan pertemanan kita di-reset? Kayak, 'Siapa sih orang ini?!' gitu."
"B-bukan! Bukan di-reset atau apa! Ini cuma... sisa-sisa dari waktu pertama kali kita bertemu..."
"Sisa-sisa? Maksudnya apa?"
"Karena waktu itu aku takut dan mikir, 'Waduh, anak populer ngajak ngobrol aku!' Jadi tubuhku masih mengingat perasaan saat itu, dan tanpa sadar aku jadi suka gemetaran..."
Mendengar penjelasan itu, aku sampai tertawa.
Yukki memang lucu.
Setiap kali panik, cara bicaranya jadi agak aneh dan terkadang terdengar sedikit ambigu. Justru itu yang membuatnya menggemaskan. 😆
Sebenarnya, menurutku diriku lebih cocok berada di kelompok anak pendiam daripada anak populer.
Aku hanya berusaha keras agar sisi suram dan murungku tidak terlihat, karena aku tidak ingin kembali menjadi diriku yang dulu.
"Eh, aku nemu anime web yang seru banget, lho. Mungkin Honoka-chan sudah tahu sih."
"Apa tuh? Nontonnya di platform mana?"
"Hmm... kalau nggak salah kamu langganan NetPipe, kan? Soalnya ini judul eksklusif di sana..."
"Langganan dong! Jadi penasaran. Judulnya apa?"
Perjalanan kereta hanya sekitar belasan menit.
Seperti biasa, aku dan Yukki menghabiskannya dengan ngobrol soal anime dan manga.
...Eh?
Rasanya aku juga pernah membicarakan hal yang mirip di dalam mimpi.
Atau cuma perasaanku saja?
"Pagi, Aki-chan! Pagi juga, Bok-kun! Ah! Hiyori-chan, kamu potong rambut ya? Lucu banget!"
Begitu sampai di sekolah, aku menyapa semua orang lalu duduk di kursiku dan bergabung ke dalam obrolan mereka.
"Nfufu, pagi, Honoka~"
"Eh? Ada apa, Chika-chan? Senyummu serem banget..."
"Entahlah, dia dari tadi memang aneh banget tingkahnya."
"Nanti aku kasih tahu. Nanti aja."
"Kenapa harus nanti? Bilang sekarang dong."
"Nanti ya, nanti~"
"Nyebelin banget~. Senyum mesummu itu bikin kesel, tahu~"
Sambil mengobrol dengan teman-teman, aku terus memiringkan kepala dalam hati karena kebingungan.
Bel berbunyi.
Guru masuk ke kelas dan homeroom pagi dimulai.
"Oi, cepat duduk di tempat masing-masing—HACCIIIH!!"
...Mulai terasa kalau ini bukan sekadar perasaanku saja.
Obrolan teman-teman, bahkan bersin guru yang keterlaluan besarnya itu...
Semuanya sama persis seperti di dalam mimpi.
Pelajaran pertama.
Pelajaran kedua.
Pelajaran ketiga.
Aku tahu isi semua pelajaran itu.
Apa karena aku tipe yang rajin belajar lebih dulu, jadi tanpa sadar otakku memprediksi isi pelajaran di dalam mimpi?
Sejujurnya aku tidak terlalu suka belajar.
Bahkan bisa dibilang aku kurang pandai.
Tapi demi tujuanku untuk bisa masuk kelas tingkat atas yang sama dengan Takumi-kun, aku sudah berusaha mati-matian.
Jadi kalau aku sampai bermimpi tentang pelajaran yang akan datang, mungkin masih bisa dimengerti...
Mungkin.
Bukan cuma soal belajar.
Dalam urusan pergaulan pun aku merasa sudah berusaha cukup keras.
Bisa jadi aku terlalu memikirkannya sampai-sampai tanpa sadar melakukan simulasi hari ini di dalam mimpi.
Tapi ada satu hal yang tidak bisa kuterima.
Saat pelajaran keempat.
Takumi-kun berbicara kepada Nanami-chan yang duduk di sebelahnya.
Ini tidak terjadi di dalam mimpi.
Maksudku, biasanya Takumi-kun tidak pernah memulai percakapan dengan teman-temannya.
Obrolan dengan teman, isi pelajaran, semuanya bisa diprediksi dengan cukup akurat di dalam mimpi.
Namun meski begitu, kenapa gambaran Takumi-kun di dalam mimpiku bisa meleset sejauh ini?
Pemahamanku tentang Takumi-kun masih kurang.
Berarti aku harus lebih banyak memperhatikannya lagi.
Takumi-kun di dalam mimpiku adalah orang yang ramah kepada siapa saja.
Jika dimintai tolong, hampir tidak pernah menolak. Bahkan tanpa diminta pun dia sering menawarkan bantuan.
Karena itu dia dipercaya guru-guru dan sering diandalkan banyak orang.
Ah, benar.
Tadi guru olahraga juga menitipkan pesan kepadanya.
Di dalam mimpi pun memang begitu.
Saat jam pelajaran keenam, dia bahkan diminta membantu membawa peralatan yang akan digunakan di kelas. Meski terlihat enggan, dia tetap membantu tanpa memasang wajah kesal sedikit pun.
Menurutku, itu menunjukkan betapa tinggi tingkat kepeduliannya.
Hebat sekali, Takumi-kun.
Tidak heran banyak orang mempercayainya.
Karena itulah aku juga menganggapnya luar biasa...
Tapi di saat yang sama, aku sedikit khawatir.
Takumi-kun terlalu memikirkan orang lain.
Tidak semua orang di sekitarnya adalah orang baik.
Takumi-kun adalah tipe orang yang cenderung memanfaatkan kebaikan hatinya sendiri.
Kalau dia memilih orang yang akan dia perlakukan dengan baik, mungkin itu masih wajar.
Tapi Takumi-kun tidak seperti itu.
Pria atau wanita. Orang baik ataupun orang jahat.
Kepada siapa pun dia akan mengulurkan tangan.
Bagiku, Takumi-kun adalah pahlawan yang nyaris sempurna.
Saat mata kami bertemu, aku tersenyum kecil.
Takumi-kun membalas senyumku.
Senang.
Sempat kupikir dia menyadari kalau aku sedang memperhatikannya, jadi aku agak panik.
Untung saja di dalam mimpi tidak ada kejadian seperti ini.
Aku harus lebih berhati-hati.
...Ternyata pemahamanku tentang Takumi-kun masih jauh dari cukup.
Sambil mengobrol dengan teman-teman, aku memutuskan untuk mengamati Takumi-kun lebih serius lagi.
Aku tidak boleh puas hanya dengan versi Takumi-kun yang ada di dalam mimpiku!
Tak terasa jam pulang sekolah pun tiba.
Seperti biasa, aku berpisah dengan Takumi-kun untuk sementara.
Bersama teman-teman, aku pergi ke stasiun, naik kereta, lalu tiba di stasiun transit.
Aku berpamitan dengan teman-teman, lalu menunggu Takumi-kun di bangku dekat peron.
Sambil mengecek ponsel.
Kalau dia terlihat akan terlambat atau pergi bermain dengan teman-temannya, biasanya dia pasti menghubungiku terlebih dahulu.
Tidak ada pesan masuk.
Berarti kami bisa pulang bersama.
Yes.
Saat aku keluar dari sekolah, Takumi-kun sedang mengobrol dengan Watanuki-kun.
Kalau sesuai mimpi, dia akan naik kereta berikutnya... atau bahkan kereta setelahnya lagi.
...Yang berarti, setelah ini...
Mungkin diriku yang diam-diam berharap itu terjadi.
Padahal aku tahu perkembangan dengan tingkat kemajuan serendah itu seharusnya tidak mungkin terjadi di dunia nyata.
Tapi karena tanpa sadar aku terus mengikuti alur mimpi, rasanya jadi sedih.
Aku membeli teh dan jus jeruk dari mesin penjual otomatis.
Setelah tanpa sengaja memasukkan uang receh ke dalam sepatu, aku kembali ke bangku dan menunggu.
Beberapa menit kemudian, Takumi-kun berlari kecil menghampiriku.
"Maaf, Honoka. Sudah nunggu lama?"
"Nggak kok, tenang saja. Aku juga baru sampai."
Bohong.
Honoka yang asli pasti akan bilang begitu.
"Kita kan sudah janjian. Masa aku bilang aku sudah nunggu tiga puluh menit?"
"Tiga puluh menit itu bohong banget."
"Sebenarnya satu jam."
"Kelasmu belum selesai, ya?"
Aku suka percakapan kosong seperti ini bersama Takumi-kun.
Bahkan kalau aku memberi jawaban yang tidak nyambung, dia selalu tertawa seolah itu lucu.
"Aku sih sebenarnya ingin cepat-cepat pulang dari sekolah, tapi sesekali aku juga ingin jadi pihak yang menunggu."
"Kalau begitu aku akan pulang cepat dari sekolah. Terus kita pulang bareng. Cepat."
Kami berdiri berdampingan menunggu kereta.
Kata-kata yang sama seperti di dalam mimpi.
Balasan yang sama seperti di dalam mimpi.
Tapi tetap saja tidak benar-benar identik.
Atau lebih tepatnya...
Ekspresi Takumi-kun terasa sedikit berbeda dari biasanya.
"..."
Mungkin aku masih belum cukup memahami dirinya.
Seolah baru teringat, aku mengeluarkan dua botol minuman.
Sebenarnya ini minuman yang diberikan temanku.
Takumi-kun tidak suka diberi sesuatu begitu saja.
"Makasih. Teh aja ya."
Aku suka saat Takumi-kun mengandalkanku.
Karena itu aku sengaja bertanya seolah-olah baru terpikir sekarang.
Dari botol yang kuterima, Takumi-kun langsung meneguk tehnya.
Aku juga meminum sedikit jus jerukku.
Takumi-kun sebenarnya tidak terlalu suka minuman manis.
Tapi aku tetap ingin sedikit saja jus jerukku diminumnya.
Makanya aku bertanya meski sudah tahu jawabannya.
"Mau coba sedikit?"
"Ah, iya. Makasih."
Aku menyerahkan jus jerukku kepada Takumi-kun.
Takumi-kun lalu menyerahkan tehnya kepadaku sambil berkata,
"Kalau begitu yang ini juga."
Bibir Takumi-kun menyentuh mulut botol jus jeruk itu.
Lalu aku juga minum dari botol yang sama sambil berpura-pura biasa saja, seolah berkata:
"Aku sih nggak terlalu mempermasalahkannya."
Ah...
Ciuman tidak langsung yang sangat alami.
Kejahatan yang dilakukan dengan perhitungan matang.
Aku sendiri merasa ngeri pada diriku sendiri.
Sedikit demi sedikit, air liur Takumi-kun menjadi bagian dari tubuhku.
Menjijikkan.
Benar-benar menjijikkan.
Karena itu aku tidak pernah bisa menceritakannya kepada siapa pun.
...Tapi kenapa ya, saat Takumi-kun menerima botol itu, dia terlihat sedikit terkejut?
Apa dia menyadari obsesi anehku?
Aku jadi agak panik.
"Makasih, kalau begitu aku minum yang ini."
"Aku juga yang ini."
Kami saling menukar minuman sekali lagi.
Jus jeruk yang sudah diminum Takumi-kun.
Rasanya ingin kusimpan seperti itu selamanya...
Tapi aku juga sadar kalau itu terlalu menyeramkan.
Jadi setelah habis, tentu saja aku membuang botolnya dengan benar.
Meski begitu...
Rasanya tetap membuatku sedih.
Kereta akhirnya datang.
Setelah menunggu penumpang yang turun, kami naik ke dalam.
Waktu berdua yang akhirnya tiba.
Setelah ini kami hanya akan berpisah.
Karena itu aku ingin menikmati kebahagiaan ini sepenuhnya.
Namun tetap saja...
Tingkah Takumi-kun terasa sedikit aneh.
Takumi-kun hampir tidak menatapku.
Ekspresinya kaku.
Bicaranya juga lebih sedikit dari biasanya.
Sesekali dia malah menatap ke arah atas, seolah sedang memikirkan sesuatu.
Apa terjadi sesuatu?
Aku ingin mendukungnya kalau bisa, tapi aku juga tidak tahu sejauh mana aku boleh ikut campur.
Kalau hanya teman biasa mungkin aku bisa bertanya tanpa sungkan, tapi terhadap Takumi-kun aku tidak bisa begitu.
Aku tidak ingin membuatnya terluka.
Kami tiba di stasiun dan turun dari kereta.
Aku berusaha tetap mengobrol seperti biasa.
"PR matematika itu susah banget ya. Hampir tiap hari ada rasanya."
Tapi tidak ada balasan dari Takumi-kun.
Seolah dia tidak sedang mengikuti alur mimpi lagi.
"Ada apa?"
Aku ingin bertanya begitu.
Dia menatapku dengan wajah yang sangat serius.
"...Eh?"
Apa mungkin...
Penyebab yang membuat Takumi-kun terlihat gelisah itu adalah aku?
Bukankah berarti berbagai keanehan yang muncul sudah tidak bisa dijelaskan hanya sebagai perbedaan dari mimpi?
Aku panik sampai tidak bisa mengatakan apa-apa.
"A-ada yang penting mau kubicarakan."
Ah...
Akhirnya datang juga.
Perkembangan yang benar-benar berlawanan dengan mimpi.
Bukan pengakuan cinta...
Melainkan ucapan perpisahan.
Aku telah memanfaatkan posisi kami sebagai teman masa kecil untuk memuaskan keinginanku sendiri.
Ini adalah hukuman yang pantas untuk diriku yang egois.
Baiklah...
Ayo, bacakan vonisku.
Aku akan menerimanya dengan lapang dada...
Aku sudah memikirkannya berkali-kali.
Jangan lakukan ini di perjalanan pulang seperti sekarang. Setidaknya ajak aku ke tempat yang lebih layak dulu...
"U-uh, ya..."
Sejujurnya, aku lebih berharap dia mengatakannya dengan santai saja.
"Tapi maaf. Aku... cuma bisa menyampaikannya dengan cara seperti ini."
Kenapa dia sampai minta maaf?
Padahal yang salah itu aku...
"Aku bukan ingin pergi ke tempat khusus. Aku cuma ingin menjadikan perjalanan pulang kita yang biasa ini... sedikit lebih berarti."
Begitu ya...
Kalau setelah ini aku tidak bisa lagi melewati jalan ini bersamanya...
"Aku..."
"Ya..."
"Aku suka sama Honoka."
"..."
...
Hah?
"Maukah... kau berpacaran denganku?"
...
...
Hah!?
"T-tolong... beri aku jawaban."
Tunggu, dia minta jawaban...? Eh!?
Ini bukan vonis mati, tapi... pengakuan cinta!?
A-apa ini...? Dia sedang menembakku!?
Salah dengar? Halusinasi? Aku terlalu syok sampai otakku berhenti bekerja?
Kalimatnya memang berbeda dari yang ada di mimpi, tapi... ini benar-benar terasa seperti mimpi...
Sekarang, tepat di depanku, Kō-kun mengatakan bahwa dia menyukaiku.
Bahwa dia menyukaiku...!
Kō-kun terus menatapku, menunggu jawabanku.
"A-anu..."
Suara serak yang akhirnya berhasil keluar dari tenggorokanku.
Kepalaku benar-benar kosong. Aku tidak bisa berpikir dengan benar.
"Aku bermimpi... Kō-kun menembakku..."
"Hah?"
"Waktu pengakuannya sih... kata-katanya juga... sedikit berbeda."
Tapi ekspresi Kō-kun di dalam mimpi dan sekarang sama saja.
Ekspresi Kō-kun sedikit berubah menjadi cemas.
Benar juga. Aku harus segera menjawab.
Maaf ya.
Aku sendiri tidak mengerti apa yang sedang aku katakan. Maaf.
Aku tak pernah membayangkan ini akan jadi kenyataan...
Jadi aku cuma bisa, "e-eh..." terus.
Tapi aku tidak perlu mencari kata-kata yang bagus.
Aku tidak perlu mengatakan hal yang terdengar keren.
Aku hanya perlu menyampaikan perasaanku yang jujur.
Karena jawabannya sudah kutentukan sejak lama—!
"A-anu, aku..."
Saat sadar, aku sudah berada di kamarku sendiri.
Masih setengah bingung, aku meraih ponsel dan mematikan alarm.
Layar menunjukkan tanggal 7 Mei.
"...Kō-kun?"
Tadi barusan dia...
Dia memang menyatakan perasaannya kepadaku, kan? Di perjalanan pulang sekolah.
Ekspresinya, kata-katanya, memang sedikit berbeda dari mimpi.
Tapi di mimpi maupun kenyataan, Kō-kun tetaplah Kō-kun.
"...Kō-kun sudah bilang jawabannya, ya? Maaf."
Benar juga.
Aku sendiri tidak tahu sedang mengoceh apa.
Maaf ya.
Karena aku tidak pernah menyangka ini akan jadi kenyataan...
Makanya cuma bisa, "e-eh..." terus.
Tapi aku tidak perlu mencari kata-kata yang bagus.
Aku tidak perlu mengatakan hal yang terdengar keren.
Aku hanya perlu menyampaikan perasaanku yang jujur.
Karena jawabannya sudah kutentukan sejak lama—!
"A-anu, aku..."
"..."
Mimpi lagi!?
Masa sih!?
Dua hari berturut-turut mimpi yang sama...?
Bukan. Karena masih tanggal tujuh, berarti aku bermimpi di dalam mimpi?
Kalau begitu sekarang aku harus bangun dari mimpi ini?
Atau ini masih mimpi juga?
Aku mencubit pipiku. Sakit seperti biasa.
Kalau begitu... sekarang ini bukan mimpi?
Aku tidak tahu.
Karena sensasi di mimpi tadi juga terasa sangat nyata.
Deg-degan saat ditembak Kō-kun masih tersisa di dadaku.
"...Aku mengerti."
Aku terlalu memikirkan Kō-kun sampai akhirnya terbawa ke dalam mimpi.
Pengakuan cinta dari Kō-kun tidak mungkin terjadi di dunia nyata. Jadi aku memutar kembali mimpi yang manis itu dan menghabiskan hari-hariku dalam dunia mimpi.
...
Begitu ya.
Kalau memang begitu.
Rasa berdebar itu, sampai rasanya dada sesak.
Tapi sebelum menjawabnya, aku boleh mengakhiri mimpi ini dulu, kan?
Karena aku masih ingin sedikit lebih lama tenggelam dalam mimpi ini.
Misalnya... lebih jauh lagi...
Berpegangan tangan, atau...
Melangkah lebih jauh lagi...
"...!?"
Tiba-tiba nada dering berbunyi dan ponselku terjatuh.
Telepon masuk dari Kō-kun!?
Aah, aku mengerti.
Ini masih mimpi.
Pasti begitu.
Kalau begitu, mari ikuti alurnya.
Aku baru bangun, suaraku masih serak.
Dengan sekuat tenaga aku berdeham, lalu mengangkat telepon dengan suara semanis mungkin.
"Halo, Hono...? Aduh, pagi-pagi begini..."
"Selamat pagi, Hono. Jangan khawatir. Ada yang ingin kutanyakan."
"U-uh, ya."
"Jangan-jangan kau belum bermimpi?"
"Mimpi tanggal 7 Mei."
"Hah...?"
Begitu aku mengatakannya dengan lebih rinci, terdengar suara Kō-kun menelan ludah di seberang sana.
"Kok bisa..."
Jantungku berdebar kencang sambil menunggu lanjutannya.
Jadi... dia juga melihatnya?
Mimpi saat aku ditembak olehnya...
Kali ini aku yang kehilangan kata-kata.
Ah, memang benar. Ini pasti masih mimpi.
Ya, rasanya seperti itu. Sama seperti isi mimpi sebelumnya, hanya berlanjut.
Lalu, bagaimana seharusnya aku menjawab?
Kalau ini mimpi, Kō-kun pasti tidak akan berbohong kepadaku.
Aku ingin memprediksi jawabanku sendiri.
Dan... nada suaranya terdengar terlalu serius.
Aku mulai curiga kalau ini mungkin bukan perkembangan yang menguntungkan bagiku.
"Ah... Hono."
"Iya?"
"Aku juga melihatnya. Mimpi yang sama."
"...Iya?"
"Mimpi saat aku menyatakan perasaan kepadamu."
"Eh..."
"Hono, sepertinya kita..."
"I-iya."
"Kita terus mengulang tanggal 7 Mei."
"..."
Kalau begitu, apa yang ingin kau katakan, Kō-kun, sampai kita terus mengulang hari ini...?

0 Komentar