Episode 001 : Adik Sang Aktris Jenius
Menjelang sore, ketika jarum jam telah melewati pukul enam.
“Hari ini saya pamit dulu.”
Setelah menyelesaikan pekerjaan, aku membereskan meja lalu berdiri dari kursiku.
Tempat ini adalah agensi hiburan bernama Second House, tempatku bekerja paruh waktu.
Meskipun merupakan agensi kecil dengan hanya empat karyawan—termasuk pegawai paruh waktu—dan tiga aktris yang bernaung di bawahnya, ketiga aktris tersebut semuanya merupakan aktris populer yang diakui kemampuan aktingnya. Karena itulah, agensi ini cukup disegani di dunia hiburan.
“Terimakasih kerja keras hari ini.”
Aku sudah bekerja di tempat ini selama sekitar satu tahun karena suatu kebetulan.
“Kanata-kun, terimakasih atas kerja kerasnya juga!”
Orang yang menyapaku dengan senyum cerah adalah Ema Saikawa, sesama staf administrasi di agensi ini.
Dia adalah mahasiswi yang diterima sebagai pegawai paruh waktu sekitar dua bulan setelah aku mulai bekerja di sini. Kepribadiannya ceria, mudah bergaul, dan suka membantu orang lain. Karena usianya hanya dua tahun lebih tua dariku, kami pun cepat akrab.
Bagiku, dia adalah salah satu dari sedikit rekan kerja yang kumiliki, sekaligus teman perempuan yang cukup dekat.
Aku membalas lambaian tangannya sambil menuju pintu keluar.
Namun tepat saat tanganku menyentuh gagang pintu—
“Kanata-kun, bisa tunggu sebentar?”
Seseorang memanggilku.
Wanita itu adalah Chika Igarashi, presiden sekaligus pemilik agensi Second House.
Chika Igarashi adalah seorang pengelola perusahaan yang dipercaya memimpin Second House oleh presiden sebelumnya saat usianya masih muda.
Aku tidak mengetahui detail pastinya, tetapi dulu Bu Igarashi aktif sebagai aktris yang berada di bawah naungan Second House. Namun, setelah presiden sebelumnya tiba-tiba menghilang, ia pensiun dari dunia akting dan mengambil alih posisi sebagai presiden perusahaan.
Mungkin karena dirinya adalah mantan aktris, ia memiliki latar belakang yang cukup tidak biasa untuk seorang pemimpin agensi hiburan.
Ia adalah sosok yang tegas namun baik hati, selalu mengutamakan perasaan para aktris yang berada di bawah naungannya.
“Ada pekerjaan yang mendesak?”
“Bukan pekerjaan yang mendesak, tapi ada pekerjaan yang ingin kuperkenalkan kepadamu.”
“Pekerjaan yang ingin diperkenalkan...?”
Cara bicaranya terasa mengganjal.
Bukan "pekerjaan yang ingin kupercayakan kepadamu", melainkan "pekerjaan yang ingin kuperkenalkan kepadamu".
Kemudian Bu Igarashi mengambil selembar kertas dari laci mejanya dan menyerahkannya kepadaku. Saat menerima dan melihatnya, mataku langsung tertuju pada judul yang tertulis di bagian atas.
[Panduan Audisi]
Hanya dengan melihat tulisan itu saja, aku langsung memahami maksudnya. Pada saat yang sama, sebuah helaan napas keluar begitu saja.
“Seorang sutradara drama yang kukenal meminta tolong agar aku memperkenalkan aktor berbakat jika ada. Kalau kamu bersedia, aku ingin memperkenalkanmu sebagai aktor yang berada di bawah naungan agensi kami.”
Padahal kontrakku seharusnya hanya sebagai staf administrasi. Namun selama setahun terakhir, aku sudah menerima tawaran serupa lebih dari yang bisa kuhitung dengan satu tangan.
“Sudah berkali-kali saya katakan, saya tidak berniat kembali berkarier sebagai aktor.”
“Jadi perasaanmu tetap tidak berubah?”
Sebagai jawaban, aku hanya menganggukkan kepala dengan tegas.
“Lagipula, aku sudah pensiun selama dua tahun. Sekarang mana mungkin aku masih bisa berakting dengan baik.”
Alasannya sederhana.
Ini bukan pertama kalinya Bu Igarashi mencoba memperkenalkanku pada pekerjaan sebagai aktor.
“Tidak juga. Memang benar ada jeda yang cukup lama, tetapi kemampuan dan insting yang sudah ditempa selama bertahun-tahun sejak masa kecil tidak akan hilang hanya karena beberapa tahun jauh dari lokasi syuting.”
Bu Igarashi mengatakannya seolah itu adalah hal yang sudah jelas.
“Ema-san juga berpikir begitu, kan?”
“Eh? A-ah... iya. Aku juga ingin melihat Kanata-kun berakting lagi!”
Mendapat pertanyaan mendadak, Ema-san menjawab sambil sedikit panik, tetapi tetap tersenyum.
Entah perkataannya itu hanya untuk menyesuaikan suasana atau memang tulus dari hatinya, aku tidak tahu. Namun jika seseorang seperti Bu Igarashi—mantan aktris yang memahami dunia akting—mengatakan bahwa itu tidak benar, aku sulit membantahnya dengan keras.
Beliau memang sosok presiden yang luar biasa karena mampu memahami perasaan para aktor dan aktris. Namun bagiku, justru itu yang membuatnya sulit dihadapi.
Karena merasa alasan asal-asalan tidak akan berhasil, aku memilih kata-kata lain.
“Setidaknya kemampuan dan instingku sudah pasti menurun. Jika orang seperti saya diperkenalkan, itu bisa memengaruhi reputasi Second House. Saya sangat menghargai niat baik Anda, Bu Igarashi, tetapi saya benar-benar tidak bisa menerima tawaran itu.”
“Soal itu akan kupertimbangkan dengan baik. Lagi pula, agensi kami hanya memiliki perempuan. Sejujurnya kami juga membutuhkan aktor pria. Kami akan memberikan dukungan semaksimal mungkin, jadi maukah kamu mempertimbangkannya sekali lagi?”
“Maaf, tapi keputusan saya tidak akan berubah.”
“...Begitu ya. Maaf sudah memaksamu.”
Bu Igarashi bergumam dengan nada kecewa.
Setelah itu, beliau tidak mencoba membujukku lagi.
“Maaf sudah menahanmu. Kerja bagus hari ini.”
“Tidak apa-apa. Saya pamit dulu.”
Setelah kembali berpamitan, aku meninggalkan kantor agensi.
Saat menuruni tangga dan keluar dari gedung, suasana di sekitar sudah mulai gelap.
“...Ingin memperkenalkanku sebagai aktor, ya.”
Sambil berjalan menuju stasiun terdekat, aku kembali mengingat percakapan tadi.
Sesuai dengan kata-kata itu, dulu aku memang pernah berkarier sebagai aktor.
Sejak kecil aku sangat menyukai drama televisi dan mengagumi profesi aktor. Dengan dukungan orang tuaku, aku mengikuti kelas akting untuk anak-anak, dan setelah beberapa kali mengikuti audisi... kehidupanku sebagai aktor pun dimulai.
Aku lolos dalam sebuah audisi.
Saat berusia lima tahun, aku memulai debut sebagai aktor cilik.
Dibandingkan anak-anak seusiaku saat itu, aku memang berkembang lebih cepat secara mental. Sebagai aktor cilik yang memiliki daya paham tinggi dan kemampuan akting yang baik, aku mendapat cukup banyak sorotan. Bahkan aku berani mengatakan sendiri bahwa saat itu aku termasuk aktor cilik yang bisa disebut berbakat.
Karena itu, hampir tidak ada hari di mana wajahku tidak muncul di televisi.
Namun, keadaan seperti itu tidak berlangsung selamanya.
Sepuluh tahun memang waktu yang singkat bagi dewa, tetapi bagi manusia, lima belas tahun dan dua puluh tahun adalah usia yang sangat berbeda.
Dalam kasusku, pekerjaan mulai berkurang saat aku memasuki masa SMP.
Meski begitu, aku tetap melakukan apa pun agar bisa bertahan sebagai aktor.
Aku menerima peran apa pun yang diberikan, berusaha meningkatkan kemampuan aktingku, bahkan memanfaatkan segala koneksi yang ada untuk mendekati sutradara dan produser.
Namun pada akhirnya, tidak ada lagi kebutuhan untuk aktor cilik yang telah melewati masa kejayaannya.
Di tengah semua itu, aku mendapatkan pekerjaan dalam sebuah drama yang sudah lama kuimpikan.
Itu terjadi saat aku duduk di tahun kedua SMP.
“Senang bertemu denganmu. Aku Tachibana Haruka, aktris pendatang baru.”
Di situlah aku bertemu dengan Tachibana Haruka.
Dia adalah aktris pendatang baru yang seusia denganku dan baru saja bergabung dengan Second House saat itu.
Meski itu merupakan karya debutnya, dia langsung terpilih sebagai pemeran utama wanita dalam drama tersebut. Saat melihat bakatnya dari dekat dan bermain bersama dalam drama yang sama, aku merasakan sesuatu yang menyakitkan.
Bahwa meskipun aku dianggap jenius, aku sama sekali bukan seorang jenius.
Bakatnya begitu luar biasa hingga rasanya semua pujian "jenius" memang seharusnya ditujukan kepadanya.
Dan yang lebih menakutkan lagi, saat itu dia bahkan belum genap setahun belajar akting.
Seorang jenius yang membuat orang lain justru merasa putus asa ketika menyadari betapa hebatnya dirinya.
Namun bakatnya tidak hanya terbatas pada kemampuan akting semata.
Dia adalah sosok yang bisa disebut sebagai jenius yang dicintai semua orang.
Tidak peduli seberapa hebat kemampuan akting seseorang, jika tidak memiliki pesona layaknya seorang idola, mereka tidak akan menjadi populer.
Namun Haruka memiliki semuanya.
Dengan kemampuan akting yang luar biasa, penampilan yang menawan, serta kepribadian yang mudah disukai, ia berhasil menarik perhatian masyarakat. Cara dirinya melesat menjadi bintang besar dalam sekejap benar-benar terasa seperti kisah Cinderella di era modern.
Saat itu, bahkan muncul suara-suara yang menyebutnya sebagai penerus Satomi Yoshioka, aktris papan atas dari agensi yang sama.
Aku belum pernah melihat satu pun orang yang benar-benar membencinya.
Bukan hanya populer atau disukai banyak orang, tetapi dicintai oleh berbagai kalangan pada tingkat yang bahkan bisa dibilang tidak normal.
Melihat kesuksesannya, dunia mulai memberikan penilaian seperti ini:
Tachibana Haruka memiliki kemampuan untuk memikat hati orang lain melalui aktingnya.
Saat itu, rasanya seluruh Jepang sedang tergila-gila padanya.
Itu terjadi sekitar dua tahun setelah debutnya.
Haruka meninggal dunia akibat sebuah kecelakaan saat proses syuting.
Sudah setahun sejak saat itu.
Dalam arti tertentu, aku bersyukur kepadanya.
Karena setelah bertemu dengan seorang jenius sejati, aku bisa menyerah menjadi aktor dan mengambil keputusan untuk pensiun sebelum usiaku terlalu jauh untuk memulai kembali hidup dari nol setelah masuk SMA.
Kalau dipikir sekarang, mungkin keputusan itu memang lebih baik diambil saat aku sudah dewasa.
Sambil memeluk lenganku sendiri, aku menatap langit malam.
“Sekarang sudah tidak mungkin lagi aku kembali menjadi aktor...”
Mungkin karena akhirnya aku berhasil menata perasaanku.
Kalau dipikir-pikir sekarang, bukan hanya karena Bu Igarashi kembali menawariku pekerjaan sebagai aktor. Belakangan ini, aku memang sering memikirkan berbagai hal yang membuatku gelisah.
Sambil tenggelam dalam pikiran seperti itu, aku tiba di apartemen tempat tinggalku dan menaiki tangga menuju kamar.
Namun saat sampai di depan pintu masuk, aku menemukan sosok yang menjadi penyebab kegelisahanku.
“Selamat datang, Kanata-san!”
Orang yang menungguku pulang bukanlah orang lain.
Melainkan Yuu, adik dari Tachibana Haruka.
Yuu berlari menghampiriku sambil mengibaskan rambut panjangnya dan memperlihatkan senyum yang menawan.
Pertama kali aku bertemu dengannya adalah saat dia diajak Haruka ke lokasi syuting untuk melihat proses produksi.
Saat itu Yuu masih duduk di tahun pertama SMP. Dia berdiri dengan malu-malu di belakang kakaknya saat memperkenalkan diri. Sulit dipercaya bahwa gadis yang dulu begitu pemalu kini bisa menjadi sosok yang begitu ramah dan terbuka.
Meski jika diperhatikan baik-baik, berbeda dengan Haruka yang sudah tampak dewasa, Yuu masih menyisakan kepolosan yang sesuai dengan usianya.
Meski begitu, kemiripan mereka memang luar biasa.
“Kerja bagus hari ini, Kanata-san!”
“...Kamu juga cukup gigih, ya.”
Mungkin memang tidak ada yang bisa kulakukan selain mengakui itu.
Sudah seminggu sejak Yuu muncul di hadapanku, dan selama itu pula dia terus menungguku pulang setiap hari tanpa pernah absen. Kesetiaannya bahkan mengingatkanku pada seekor anjing terkenal yang patungnya berdiri di depan Stasiun Shibuya.
[1]“Berapa kali pun kamu memintaku, aku tidak berniat mengajarimu akting.”
“Tolong... tolong pertimbangkan sekali lagi!”
“Tidak.”
Aku mengabaikan panggilannya, menaiki tangga menuju kamarku, lalu menutup pintu.
Beberapa saat kemudian, suara langkah Yuu perlahan menjauh.
“Kenapa sih dia terus memintaku melakukan hal seperti itu...”
Aku bergumam sambil bersandar pada pintu.
Sebenarnya bukan berarti aku tidak mengerti alasannya.
Yuu tahu bahwa aku pernah menjadi aktor. Dia juga tahu bahwa aku pernah bermain bersama Haruka dan mengenalnya secara pribadi.
Bahkan, dia juga tahu bahwa aku bekerja di Second House, agensi tempat Haruka dulu bernaung.
Fakta bahwa Yuu memilihku sebagai orang yang dimintai bantuan berarti memang tidak ada orang lain yang lebih cocok dariku.
Meski begitu...
“Kenapa dia tahu kalau aku bekerja di Second House?”
Dan lebih dari itu, bagaimana dia bisa tahu alamat kamarku?
Pertanyaan-pertanyaan itu memang sempat terlintas di benakku, tetapi aku tidak berniat memenuhi harapannya.
Setidaknya, itulah yang kupikirkan.
Namun tampaknya aku terlalu lunak.
Sejak hari itu, Yuu terus menungguku pulang setiap hari tanpa pernah absen.
Misalnya, suatu hari...
“Kanata-san, selamat datang! Kerja bagus hari ini!”
“...Kamu juga tidak menyerah-nyerah, ya?”
“Maukah Anda mempertimbangkannya sekali lagi?”
“Tidak mungkin.”
Yuu langsung menjawab dengan senyum tipis, seolah sudah menduga jawaban itu.
“Kanata-san, apa Anda lapar?”
“Aku memang belum makan karena baru pulang kerja, tapi...”
“Kalau begitu, silakan!”
Sambil berkata demikian, Yuu mengeluarkan taiyaki dari kantong kertas yang dibawanya.
“Aku baru menemukan toko taiyaki yang baru buka di depan stasiun.”
“Hah... aku tidak tahu.”
“Ada juga taiyaki isi krim custard favorit Kanata-san, jadi tanpa sadar aku membeli terlalu banyak. Maukah Anda membantu menghabiskannya?”
Setelah berkata begitu, Yuu mulai memakan taiyaki yang ada di tangannya
terlebih dahulu sambil tetap menyodorkan kantong kertas itu kepadaku.
Bagaimana mungkin dia tahu bahwa aku menyukai krim custard?
Aku sudah berusaha mengabaikannya, tetapi melihat Yuu memakan taiyaki itu dengan begitu nikmat tepat di depan mataku membuat godaannya terlalu besar untuk ditahan.
Suara perut yang keroncongan bergema di lorong apartemen.
“Aku tidak akan mengajarimu akting sebagai gantinya.”
“Aku tidak mengatakan hal sekejam itu.”
Kalau memang begitu, seharusnya aku tidak perlu merasa sungkan.
Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku makan taiyaki.
Begitu menggigitnya, rasa manis krim custard langsung memenuhi mulutku. Krimnya bahkan sampai melimpah dari kepala hingga ujung ekor taiyaki, membuatnya terasa sangat memuaskan.
“Hm.”
“Kelihatannya enak.”
Yuu menatapku sambil tersenyum tipis ketika melihat reaksiku.
“...Ya, enak.”
“Aku senang mendengarnya.”
“...Pokoknya terima kasih. Lain kali aku yang akan membelikannya.”
“Tidak perlu.”
Sebelum aku sempat mengatakan, “Kalau begitu, aku pergi dulu,” Yuu sudah lebih dulu berbalik dan berjalan pergi.
Aku benar-benar tidak mengerti apa sebenarnya yang ingin dia lakukan.
Lalu pada hari berikutnya—
“Ah, Kanata-san! Aku sudah menunggu!”
Begitu menemukan keberadaanku, Yuu berlari menghampiri dengan senyum cerah.
“Pembicaraan itu kita lanjutkan nanti ya!”
Pada saat yang sama, dia menggenggam tanganku dan, dengan ekspresi panik, mulai berlari menuju luar area apartemen.
“T-tunggu! Mau ke mana kau!?”
“Kanata-san, aku punya permintaan!”
“Makanya, aku tidak berniat mengajarimu akting—”
“Aku tidak meminta soal akting!”
“Kalau begitu?”
Tempat yang dia bawa ternyata adalah sebuah toko roti di kawasan pertokoan.
“Toko roti ini menjual roti yang baru dipanggang tiga kali sehari. Tapi yang paling terkenal adalah roti goreng yang ditaburi gula halus. Setiap orang hanya boleh membeli maksimal dua buah.”
“...Jadi maksudmu aku harus ikut mengantre?”
“Boleh, kan? Aku akan memberimu satu sebagai imbalannya.”
Aku benar-benar dibuat bingung oleh permintaan yang tiba-tiba itu.
“Kanata-san juga suka roti goreng dari sini, kan?”
Bagaimana dia bisa tahu makanan kesukaanku?
“Makanya aku bilang, meskipun begitu aku tetap tidak akan mengajarimu akting.”
“Tentu saja. Itu urusan lain.”
...
Setelah mengantre sekitar lima belas menit, kami membeli dua roti goreng masing-masing, lalu pindah ke taman terdekat dan duduk di bangku yang kosong sambil mulai menyantapnya.
“Hehe.”
Yuu menatapku sambil tersenyum puas.
“Apa?”
“Roti goreng yang dimakan bersama seseorang memang lebih enak, ya.”
“Bukan karena bersama seseorang. Memang rotinya yang enak.”
“Tentu saja itu juga alasannya. Tapi makanan memang terasa lebih nikmat kalau dimakan berdua daripada sendirian. Berkat Kanata-san yang mau menemaniku, rasanya jadi dua kali lebih enak.”
Sambil mengatakan itu, dia menggigit roti goreng yang berminyak cukup banyak, lalu tersenyum bahagia.
Alasan kenapa dia melakukan semua itu sudah jelas, tapi aku tetap tidak tahu apa sebenarnya yang ingin dia capai.
Yang pasti, aku mulai mengerti satu hal.
Yuu memang sangat keras kepala.
Hari-hari seperti itu terus berlanjut.
Aku mencoba bersikap dingin, menolaknya dengan tegas, bahkan mengabaikannya, tetapi Yuu tidak pernah menyerah. Dia selalu menyambutku dengan senyum dan terus menungguku pulang.
Keadaan itu berlangsung selama dua minggu penuh.
Saat itu sudah memasuki akhir April, tepat sehari sebelum libur Golden Week dimulai.
“Sepertinya hari ini tidak akan muncul juga...”
Saat sedang bekerja, aku melirik ke luar jendela dan tanpa sadar bergumam.
Hujan yang mulai turun sejak sore hari kini berubah menjadi hujan deras. Tetesan hujan menghantam jendela dengan keras, sementara angin bertiup begitu kencang hingga payung pun hampir tidak berguna.
Di berita televisi bahkan dikabarkan bahwa beberapa jalur kereta dihentikan operasinya karena cuaca buruk.
“Kalau begini, seharusnya dia tidak akan datang.”
Aku menatap hujan di luar jendela sambil mengingat perkataan kakaknya yang pernah muncul di televisi.
Tak lama kemudian, Bu Igarashi mengumumkan bahwa pekerjaan hari itu telah selesai.
“Karena cuacanya seperti ini, mari kita akhiri pekerjaan lebih awal hari ini.”
“Kereta juga akan berhenti beroperasi kalau kita terlalu lama di sini.”
“Baik. Terima kasih banyak.”
Setelah membereskan meja kerja, aku meninggalkan kantor bersama Ema-san.
Saat keluar gedung, angin yang semula hanya kencang kini terasa berubah menjadi badai yang sesungguhnya.
“Benar-benar hujan deras...”
“Kanata-san, Anda tidak membawa payung?”
“Iya. Waktu berangkat tadi belum hujan.”
“Kalau begitu... bagaimana kalau kita pulang bersama?”
Yuu menggenggam payung dengan kedua tangannya sambil menatapku lurus.
Aku tentu senang dengan niat baiknya, tetapi berbagi satu payung dalam hujan seperti ini jelas bukan ide yang bagus.
“Terima kasih. Tapi jangan pikirkan saya, pulanglah duluan.”
“Itu tidak bisa. Saya tidak mungkin membiarkan Kanata-san pulang sendirian dalam keadaan basah kuyup.”
Sambil berkata begitu, Yuu meraih lengan bajuku dan tidak mau melepaskannya.
Entah kenapa, wajahnya tampak sedikit memerah.
Tapi mungkin itu hanya perasaanku saja.
“Ayo pakai payung yang sama... ini kesempatan!”
“Apa?”
Suara hujan terlalu keras sehingga aku tidak bisa mendengar jelas apa yang baru saja dia gumamkan.
“Yuu, tadi kamu bilang apa?”
“Ti-tidak ada. Ayo kita berangkat!”
Yuu langsung membuka payungnya lalu mulai berjalan sambil merapatkan tubuhnya ke sisiku.
Karena jarak kami terasa terlalu dekat, aku mencoba sedikit menjauh.
“Kalau terlalu jauh, nanti Anda kehujanan.”
“...Terima kasih.”
Melihat Yuu yang berusaha melindungiku dari hujan sambil memegang payung, aku memutuskan menerima kebaikannya.
Bagaimanapun, jika ada orang yang melihat kami sekarang, mereka pasti akan salah paham.
Jarak ke stasiun sekitar sepuluh menit berjalan kaki.
Kami terus melangkah sambil mendengarkan suara hujan yang menghantam payung.
“Kanata-san, akhir-akhir ini Anda terlihat kurang bersemangat. Apa terjadi sesuatu?”
Yuu bertanya dengan suara yang terdengar khawatir.
“...Tidak ada apa-apa.”
Aku menjawab singkat.
Sebenarnya, kalau kami bekerja bersama setiap hari, mungkin dia akan menyadarinya.
Namun aku tidak ingin menjelaskan alasannya.
Selain itu, masalah ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Yuu.
Dan aku juga tahu bahwa jika aku meminta bantuan, dia pasti akan berusaha menolongku.
Karena itulah aku tidak ingin membuatnya ikut terbebani.
“Aku benar-benar baik-baik saja.”
“Begitu ya... Kalau ada sesuatu yang benar-benar membuat Anda kesulitan, jangan ragu untuk bercerita, ya.”
“Terima kasih.”
Mungkin karena dia memperhatikanku, atau mungkin karena dia merasa tidak perlu memaksakan diri lebih jauh.
Tak lama kemudian, kami tiba di stasiun terdekat.
“Kalau begitu, sampai besok.”
“Baik. Terima kasih banyak.”
Kami berpisah di depan pintu tiket, lalu masing-masing naik kereta untuk pulang.
Saat aku tiba di stasiun dekat apartemenku, hujan sudah sedikit mereda.
Meskipun begitu, aku tetap berlari kecil menuju apartemen agar tidak terlalu basah dan masuk angin.
Namun saat menaiki tangga menuju kamarku sambil berpikir untuk segera mandi air hangat—
“...Serius?”
Aku tidak perlu meragukan penglihatanku.
Di sana berdiri Yuu yang basah kuyup karena hujan.
“Se-selamat datang!”
Seragamnya sudah begitu basah hingga bagian dalamnya nyaris terlihat.
Rambutnya juga menempel karena air hujan, sementara kedua tangannya memeluk tubuhnya sendiri dan sedikit gemetar karena kedinginan.
Meski jelas-jelas kehujanan dan kedinginan, dia tetap menyambutku dengan senyum, seolah berusaha agar aku tidak mengkhawatirkannya.
“Akhir-akhir ini cuacanya benar-benar buruk.”
“Benar. Ramalan cuaca juga bilang beberapa jalur kereta dihentikan karena badai.”
Setelah menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dari biasanya karena cuaca buruk, aku meninggalkan kantor bersama Ema-san.
Angin yang menyambut kami di luar gedung jauh lebih kencang daripada yang kubayangkan.
“Untung saja kita pulang sebelum kereta berhenti beroperasi.”
“Iya. Terima kasih banyak.”
Kami berpisah di depan stasiun dan pulang dengan kereta masing-masing.
Saat tiba di stasiun dekat apartemenku, hujan memang sedikit mereda, tetapi angin masih bertiup kencang.
“...Sial.”
Aku berlari menaiki tangga apartemen sambil berpikir untuk segera mandi air hangat agar tidak masuk angin.
Namun saat sampai di depan kamarku—
“Selamat datang!”
Yuu berdiri di sana.
Seragamnya basah kuyup hingga nyaris tembus pandang. Rambutnya juga menempel karena air hujan. Meski begitu, dia tetap berusaha tersenyum menyambutku.
Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang kulihat.
“Kanata-san, akhir-akhir ini Anda terlihat kurang bersemangat. Apa terjadi sesuatu?”
Yuu bertanya dengan suara khawatir.
“Tidak ada apa-apa.”
“Kalau kita bekerja bersama setiap hari, mungkin saya akan menyadarinya.”
Dia tersenyum tipis.
“Tapi kalau ada sesuatu yang benar-benar membuat Anda kesulitan, tolong ceritakan kepada saya.”
“...Terima kasih.”
Meskipun aku berusaha menjaga jarak dan bersikap dingin, Yuu tetap memperlakukanku dengan ramah.
Karena itulah aku mulai bertanya-tanya.
Apa sebenarnya yang sedang dia cari dariku?
Dan kenapa dia bisa berusaha sejauh ini hanya demi meminta diajari akting?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku saat hujan badai di luar semakin kuat.
“A-ah... selamat datang!”
Seragamnya basah kuyup hingga pakaian dalamnya nyaris terlihat.
Rambutnya menempel karena air hujan, dan kedua tangannya memeluk tubuh sendiri sambil gemetar kecil karena kedinginan.
Padahal jelas-jelas dia telah diterpa hujan deras, tetapi tetap saja dia berusaha menyambutku dengan senyuman.
“...Astaga.”
Tak mungkin aku salah lihat.
Di sana berdiri seorang gadis yang basah kuyup.
“Kenapa kamu tidak membawa payung?”
“Waktu berangkat ke sini belum hujan.”
Aku pernah mendengar kalimat itu di suatu tempat sebelumnya.
Namun melihat Yuu tersenyum canggung saat mengatakannya, aku tidak sanggup membalas dengan kata-kata yang sama.
“Maaf jika setiap hari aku terus memaksakan permintaanku, tapi aku ingin meminta satu hal lagi.”
“Eh...?”
Aku mengangkat kepala sambil menatap Yuu.
Bagaimanapun juga, aku tidak mungkin membiarkan seorang gadis yang basah kuyup tetap berdiri di luar seperti ini.
Selain itu, kali ini rasanya aku kalah oleh keras kepalanya.
“Setidaknya masuklah dulu. Kalau terus begini kamu bisa masuk angin. Naiklah ke kamarku, mandi air hangat, lalu kita lanjut bicara setelah itu.”
“Baik. Terima kasih banyak!”
Wajah Yuu langsung berseri-seri.
Melihat reaksinya yang begitu bahagia, aku jadi bertanya-tanya apakah sebenarnya dia sudah menduga aku akan menyerah seperti ini.
Meski begitu, sekarang bukan saatnya memikirkan hal itu.
Aku membuka pintu kamar dan mempersilahkannya masuk.
“Kalau begitu, cepat masuk... ah.”
Tanganku yang hendak membuka pintu tiba-tiba berhenti.
“Kenapa?”
“Tidak...”
Aku terdiam karena baru teringat kondisi kamarku.
Bukan berarti kamarku berantakan sampai tidak bisa diinjak. Bahkan bisa dibilang cukup rapi untuk ukuran tempat tinggal seorang pria yang hidup sendirian.
Hanya saja, sampah yang belum sempat dibuang menumpuk, cucian kotor memenuhi keranjang, dan botol minuman kosong masih dibiarkan di atas meja.
Mungkin tidak masalah jika aku membiarkannya menunggu di luar sebentar sambil membereskan semuanya.
“Kalau begitu... silakan masuk.”
“Permisi.”
Yuu menundukkan kepala sopan lalu melangkah masuk ke dalam.
Namun sesaat kemudian, dia menatap sekeliling kamar dengan ekspresi seolah baru mengambil keputusan besar.
“Apa ada yang salah?”
“Ini pertama kalinya aku masuk ke kamar laki-laki, jadi...”
“...”
Kenapa dia mengatakannya dalam situasi seperti ini?
“Tenang saja. Aku tidak berniat melakukan hal aneh. Lagipula aku juga tidak menganggapmu seperti anak kecil.”
“Bukan anak kecil! Aku cuma dua tahun lebih muda dari Kanata-san!”
Yuu langsung menggembungkan pipinya karena tidak terima.
Awalnya aku mengira dia gadis yang baik hati dan mudah akrab dengan orang lain, tetapi melihatnya seperti ini membuatku teringat pada anak anjing kecil yang menggonggong sambil berusaha terlihat galak.
Mungkin memang karena sifatnya yang seperti itu.
“Kalau begitu, tunggu di sini.”
Aku kembali ke kamar, mengambil handuk mandi dan pakaian ganti, lalu kembali ke pintu masuk.
“Pakaian gantinya mungkin kebesaran karena milikku, tapi tahan dulu ya. Baju yang basah akan kumasukkan ke mesin pengering. Sebelum pulang nanti pasti sudah kering.”
“Terima kasih banyak.”
“Tidak usah sungkan. Cepat mandi air hangat sana.”
“Baik. Aku pinjam dulu.”
Setelah mengantar Yuu ke kamar mandi, aku masuk ke kamar tidur untuk mengganti pakaian.
Karena yang kehujanan hanya rambutku, seharusnya cukup mengeringkannya dengan handuk saja.
Aku memasukkan handuk yang sudah dipakai dan pakaian basah ke dalam keranjang cucian, lalu menuju ruang cuci untuk memasukkannya ke mesin pengering.
Saat hendak kembali ke ruang tamu setelah menekan tombol start, sekilas aku melihat pakaian dalam Yuu bercampur di antara pakaian yang sedang dikeringkan.
“...Anggap saja itu kecelakaan yang tidak disengaja.”
Aku memutuskan untuk tidak memikirkannya lebih jauh.
Ketika kembali ke ruang tamu, jarum jam sudah menunjukkan lewat pukul enam sore.
“Kalau terus begini, waktu makan malam akan terlewat.”
Menunggu Yuu turun baru membicarakan semuanya juga tidak ada gunanya.
Selain kedinginan karena kehujanan, dia juga pasti lapar.
Mengingat sebelumnya aku sudah berlari-lari demi taiyaki dan roti goreng, aku memutuskan memesan makanan antar untuk dua orang sebagai bentuk balas budi.
“...Rasanya aku malah jadi merawatnya.”
Padahal aku tidak berniat memelihara apa pun, tetapi tingkahnya benar-benar mirip anak anjing yang ingin dipelihara.
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka dan suara hair dryer terdengar. Setelah itu Yuu keluar ke ruang tamu dengan mengenakan pakaian gantiku.
“Terima kasih untuk kamar mandinya.”
“Darahmu sudah kembali lancar kelihatannya.”
Aku mempersilahkannya duduk di sebelahku.
“Permisi.”
Yuu duduk dengan sopan, lalu aku memutuskan langsung masuk ke pokok pembicaraan.
“Ada tiga pertanyaan yang ingin kutanyakan. Jawab semuanya.”
“Baik.”
Yuu langsung membenarkan posisi duduknya dan mengangguk dengan ekspresi serius.
“Pertama. Bagaimana kamu bisa tahu aku bekerja di Second House?”
“Karena aku pernah pergi ke kantor agensi itu untuk menjemput kakakku. Aku melihat Kanata-san keluar dari gedung Second House.”
Yah, untuk yang satu itu memang tidak aneh.
Kakaknya seorang aktris, jadi wajar saja dia punya banyak kenalan di dunia hiburan. Kemungkinan besar dia mendapatkan informasi itu dari sana.
“Kedua. Kenapa kamu ingin menjadi aktris?”
“...Maaf. Aku belum bisa membicarakan itu.”
Sambil menundukkan kepala, Yuu menjawab dengan nada meminta maaf.
Yuu menundukkan wajahnya seolah merasa bersalah karena tidak bisa menjawab.
Melihat ekspresinya yang hampir seperti anak kecil yang sedang dimarahi, aku mulai berpikir mungkin ada alasan yang membuatnya tidak bisa mengatakannya.
Meski begitu, perasaanku tidak berubah.
“Pertanyaan terakhir. Kenapa harus aku yang mengajarimu akting?”
Dua pertanyaan sebelumnya mungkin tidak perlu dijawab.
Yang paling ingin kuketahui adalah jawaban dari pertanyaan ketiga ini.
“Aku tahu Kanata-san pernah menjadi aktor. Kakakku juga pernah bermain bersama Anda, dan Anda mengenal banyak orang di dunia hiburan. Jadi aku pikir Anda pasti bisa mengajariku akting.”
“Memangnya tidak ada orang lain?”
“Ada. Banyak.”
Kalau hanya ingin belajar akting, ada banyak cara lain.
Dia bisa masuk sekolah akting, mengikuti kursus, atau belajar langsung dari pelatih profesional.
Kalau memang serius ingin menjadi aktris, justru belajar dari orang-orang seperti itu jauh lebih masuk akal.
“Lalu kenapa harus aku?”
“Itu karena...”
Yuu sempat mengalihkan pandangannya sesaat sebelum menatapku kembali.
“Bagi saya, Kanata-san adalah orang yang tepat.”
Jawaban itu terlalu samar untuk bisa disebut sebagai penjelasan.
Namun melihat matanya, aku merasa dia tidak sedang berbohong.
“Begitu ya...”
Aku menghela napas pelan.
Mungkin memang tidak ada gunanya memaksanya menjawab jika dia tidak ingin mengatakannya.
Karena selama percakapan ini, dia tidak pernah sekalipun mengalihkan pandangan atau menghindari jawabanku.
“Aku benar-benar ingin menjadi aktris!”
Tekad yang kuat terpancar jelas dari matanya.
Tatapan itu bahkan mengingatkanku pada saat kami bertemu kembali tiga tahun lalu.
Namun berbeda dengan saat seseorang berbicara tentang impian biasanya, ada sesuatu yang terasa hilang dari sorot matanya.
Aku tidak tahu alasannya.
“Kumohon. Tolong ajari aku akting.”
Yuu menundukkan kepalanya begitu dalam hingga dahinya hampir menyentuh lutut.
Melihat kesungguhan itu, hatiku sedikit terguncang.
Tapi apakah aku akan memenuhi permintaannya atau tidak, itu adalah masalah yang berbeda.
Bagaimanapun juga, pasti ada alasan yang sangat penting baginya.
Namun bagiku, itu bukan urusanku.
Aku sudah bukan aktor lagi.
Bahkan sekarang aku hanyalah seorang pegawai kantor di agensi hiburan, dan aku tidak pernah ingin terlibat lagi dengan dunia akting.
"•••••••"
Keheningan yang canggung menyelimuti ruang tamu.
Tak lama kemudian, suara bel interkom berbunyi.
“Sepertinya makan malamnya datang.”
Aku berdiri dan mengambil kotak makan yang sudah diantar, lalu membawanya ke ruang tamu.
“Hujannya juga sudah mulai reda. Setelah makan ini, pulanglah—”
Aku baru saja hendak berkata demikian ketika meletakkan kotak makan di atas meja.
“Aku tidak suka.”
Nada suara Yuu yang tegas membuatku terdiam.
“Aku tidak akan pulang.”
“...Apa?”
“Aku tidak akan pulang sampai Anda setuju mengajariku akting.”
Aku bahkan tidak tahu harus terkejut atau marah.
“Duduklah.”
“Tidak.”
“Yuu.”
“Tidak akan.”
Dia menatapku tanpa berkedip sedikit pun.
Cara dia menolak mentah-mentah itu mengingatkanku pada seekor anjing yang menolak pulang setelah diajak jalan-jalan.
Kalau orang lain melihatnya, mungkin mereka akan tertawa.
“Sudah tiga minggu kamu melakukan ini. Kalau terus begini, kesempatanmu akan hilang.”
“Tidak masalah. Sampai Anda bersedia mengajariku, aku tidak akan menyerah.”
“...Keras kepala sekali.”
“Katanya aku terlihat seperti orang dewasa, kan?”
Yuu membusungkan dada dengan bangga.
Melihat reaksinya, aku hanya bisa menghela napas.
Sambil membuka kotak makan dan mulai makan malam, aku memandangi bulan yang samar terlihat di balik awan melalui jendela ruang tamu.
Aku sebenarnya tidak sulit memahami perasaannya.
Bukan hanya Yuu.
Banyak anak seusianya yang mengagumi dunia hiburan dan bermimpi menjadi aktris terkenal seperti kakaknya.
Saat masih kecil, hampir semua orang pernah memiliki mimpi yang cemerlang.
Mereka mulai berusaha demi mewujudkan mimpi itu, mencari jalan menuju masa depan yang diinginkan, lalu perlahan melangkah ke arahnya.
Namun...
Kenyataan tidak semanis itu.
Seiring bertambah dewasa, seseorang mulai sadar bahwa dirinya tidaklah istimewa, lalu perlahan menyerah pada mimpinya bahkan sebelum benar-benar mencoba mengejarnya.
Mungkin memang begitu.
Di zaman sekarang, dengan satu smartphone saja kita bisa mengakses berbagai macam informasi.
Kalau sedikit mencari tahu, kita akan segera menyadari betapa sulitnya mewujudkan mimpi, dan betapa berat konsekuensi yang menanti setelah melangkahkan kaki ke dunia impian itu.
Di era yang dipenuhi informasi seperti sekarang, bahkan satu mimpi saja sering kali tak sempat terlihat.
“Kalau aku berhasil mewujudkan mimpiku, apa aku akan bahagia...?”
Pikiran seperti itu memang terdengar menyenangkan.
Namun aku tak bisa benar-benar mempercayainya.
Lebih baik tidak bermimpi.
Karena jika mimpimu hancur, yang menunggumu hanyalah kenyataan pahit.
Dunia ini dingin terhadap mereka yang keluar dari jalurnya, dan setelah itu tidak ada tempat yang akan menerima mereka.
Meski begitu, terus mengejar mimpi tanpa menyesal dan hidup dengan jujur pada diri sendiri mungkin memang salah satu cara hidup yang benar.
Tapi aku sudah pernah merasakan kenyataan itu.
Aku tidak akan kembali menjadi aktor.
Dan aku juga tidak akan mengajari siapa pun akting.
-------
Keesokan paginya, cahaya matahari yang menyelinap melalui celah tirai membangunkanku.
Sambil mengucek mata, aku meraih ponsel yang ada di samping bantal.
Pukul tujuh tiga puluh pagi.
Karena sedang libur Golden Week dan pekerjaan di Second House baru dimulai sekitar pukul sepuluh, sebenarnya tidak perlu bangun sepagi ini.
Mungkin karena sejak kemarin aku terus memikirkan berbagai hal.
“...Dia sudah pulang, kan?”
Aku teringat kejadian semalam.
Saat keluar dari kamar mandi tadi malam, aku memang melihat Yuu masih berada di ruang tamu.
Setelah itu aku langsung berbaring di tempat tidur dan tanpa sadar tertidur.
“Padahal aku harus memastikan dia pulang dengan selamat...”
Aku menghela napas kecil sambil merasa sedikit bersalah.
Tepat saat aku mengulurkan tangan ke depan, mataku menangkap punggung seseorang yang sedang berdiri di dapur.
Rambut panjang yang diikat agar tidak mengganggu saat memasak.
Aku belum pernah melihat seseorang yang sedang memasak terlihat seindah itu.
“...Apa yang sedang kamu lakukan?”
“Ah, tidak apa-apa.”
Meski terlihat seperti sedang ketahuan melakukan sesuatu, Yuu hanya menjawab dengan tenang.
Aku mengalihkan pandangan ke meja makan.
Di sana tersaji sarapan yang tampak lezat.
“...Enak.”
Begitu mencicipinya, tanpa sadar pujian itu keluar dari mulutku.
Ikan salmon panggang yang tingkat kematangannya sempurna, telur dadar yang lembut dengan sedikit rasa manis, dan nasi putih dengan bumbu yang pas.
Tak ada satu pun yang bisa dikeluhkan.
Melihatku makan tanpa sadar sambil tersenyum kecil, Yuu ikut tersenyum.
“Mungkin aku memang melakukan hal yang sia-sia.”
Mungkin menyiapkan sarapan untukku adalah alasan sebenarnya dia melakukan semua ini.
“Syukurlah. Saya jadi tenang.”
Aku menggeleng kecil.
“Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku sarapan buatan seseorang. Dan juga sudah lama sejak terakhir kali aku menikmati masakan orang lain seperti ini.”
“...Kapan terakhir kali Anda makan masakan buatan orang lain?”
“Dua tahun lalu mungkin.”
“Dua tahun?”
Yuu menatapku dengan heran.
“Maaf kalau terdengar lancang, Kanata-san. Orang tua Anda bagaimana?”
“Ah... rupanya Anda memperhatikan kalau kamar ini tidak menunjukkan tanda-tanda pernah dihuni orang lain selain saya. Makanya Anda bertanya apakah saya tinggal sendirian.”
Aku memang tidak berniat menyembunyikannya, dan tidak ada alasan khusus untuk merahasiakannya.
“Orang tuaku sudah tidak ada.”
Aku tidak menyangka pertanyaan itu akan muncul sekarang, tetapi tidak terlalu terkejut juga.
"Karena kedua orang tuaku bercerai saat aku berusia lima belas tahun, tepat ketika karierku sebagai aktor cilik sedang berada di puncaknya.
Mereka berbeda pendapat soal arah pendidikan dan masa depanku.
Ayah menganggap aku akan lebih bahagia jika terus menjadi aktor, sedangkan Ibu berpikir sebaliknya.
Pada akhirnya, mereka berpisah karena tidak bisa mencapai kesepakatan
Lalu... "
Seperti yang kubilang sebelumnya, kenyataan tidak semanis itu.
"Setengah tahun setelah aku berhenti menjadi aktor, ayah menghabiskan sebagian besar tabungannya. Katanya karena harus mengurusku, tetapi kenyataannya ia bahkan tidak berniat menafkahiku lagi karena terlilit utang."
"Begitu ya..."
"Aku rasa ini kisah yang benar-benar menyedihkan."
Mungkin ini bisa menjadi salah satu plot drama.
Namun sebagai masa depan seorang aktor yang hilang dari dunia hiburan, cerita ini terlalu tragis untuk diceritakan kepada gadis yang baru kukenal.
Setelah itu aku mengetahui alasan mengapa presiden Second House muncul saat itu.
Katanya, "Bagaimana kalau bekerja sebagai staf?" lalu ia menawarkanku kamar ini yang sekarang kutempati.
Ngomong-ngomong, kamar ini adalah apartemen 1LDK yang cukup luas untuk ditinggali sendiri.
"Lalu, setelah itu ada kabar dari orang tuamu...?"
"Tidak pernah. Setidaknya sejauh yang kutahu, presiden tidak pernah menghubungi ibuku. Yah... mungkin karena beliau mempertimbangkanku."
Kupikir presiden benar-benar orang yang patut kusyukuri.
"Maaf..."
Melihat ekspresi sedih di wajah Yuu, aku malah menyesal telah menceritakan hal seperti ini.
Namun bagiku, masa depan sebagai mantan aktor cilik memang sudah tidak ada artinya lagi. Aku sudah cukup puas hanya dengan pekerjaanku sekarang. Jadi, ayo lanjutkan sarapan yang sudah dibuat dengan susah payah ini.
"Ya..."
Meski begitu, ekspresi Yuu tidak juga cerah. Ia terus menatap sarapannya.
Setelah sarapan selesai, sambil bersiap-siap berangkat kerja aku kembali memikirkan kejadian semalam.
Awalnya kupikir kata-kata "Aku tidak akan pulang!" yang terus diucapkan Yuu hanyalah situasi yang terlalu di luar dugaan.
Maksudku, aku benar-benar tidak pernah membayangkan seorang gadis seusianya menginap di kamar laki-laki.
Aku memang pria. Akan aneh kalau tidak terjadi apa-apa. Kepeduliannya pada orang lain hanyalah sisi lain dari kurangnya kewaspadaan terhadap bahaya.
"Kalau begitu... bagaimana ya..."
Setelah membereskan meja makan dan kembali ke ruang tamu, Yuu yang sedang mencuci piring di dapur menghampiriku sambil mengelap tangannya dengan celemek.
"Sepertinya sudah waktunya berangkat."
"Ah, hari ini juga kerja, ya..."
Aku meletakkan beberapa lembar uang sepuluh ribu yen dan kunci kamar di telapak tangannya.
"Kunci...?"
"Aku mengerti niatmu, dan aku juga berterima kasih karena sudah memasak. Tapi aku tidak bisa menerima permintaanmu untuk tinggal di sini terus. Pulanglah, lalu masukkan kunci ini ke kotak pos setelah menguncinya."
Karena tadi aku mengatakannya dengan nada yang cukup tegas, kupikir kali ini dia pasti akan pergi bekerja.
✿✿✿✿✿✿✿✿✿
Malamnya.
"Selamat datang kembali!"
Begitu membuka pintu, aku langsung memegangi kepala.
Karena di sana ada Yuu yang menyambutku dengan pakaian rumah dan celemek, rambut panjangnya yang diikat seperti ekor anjing besar bergoyang-goyang.
"...Apa sih yang kamu lakukan?"
"Aku kan sudah bilang tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, bukan?"
Memang benar dia mengatakannya.
"Mau makan malam? Atau mandi dulu? Atau... itu..."
Percakapan ini benar-benar terasa seperti pasangan pengantin baru yang tinggal serumah.
Yuu memerah dan berbisik pelan,
"...Aku?"
Aku sampai tidak tahu harus berkata apa.
Namun begitulah adanya. Gadis ini tampaknya benar-benar mengajarkan arti kata "keras kepala" kepada adiknya sendiri.
“……Kalau cuma pakai celemek saat telanjang, katanya bakal lebih efektif.”
“Serius deh, aktris jenius itu menganggap kesucian adikku sebagai apa sih!
"Aku diajari kalo melakukan itu, kebanyakan pria akan mengabulkan permintaan."
Yu melanjutkan, “Memang sih, aku belum siap untuk telanjang cuma pakai celemek……”
“Ya, memang nggak sepenuhnya salah sih…… tapi itu bukan hal yang boleh diucapkan sembarangan.”
"Tenang saja. Aku sudah diingatkan untuk tidak menggunakannya kecuali pada saat yang tepat."
Justru sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk menggunakannya, menurutku……
Terlepas dari itu, memang benar bahwa sebagian besar pria di dunia ini senang atau bahkan mengidamkannya; tak diragukan lagi kalimat ini pasti masuk dalam peringkat teratas kalimat yang ingin didengar dari wanita setidaknya sekali seumur hidup.
Situasi yang pernah dibayangkan oleh setiap remaja laki-laki saat memikirkan gadis yang disukainya.
Tentu saja, suatu hari nanti aku juga ingin mendengarnya.
“Itu bukan kalimat yang pantas diucapkan oleh anak-anak.”
Jujur saja, aku tak bisa senang mendengarnya dari gadis yang baru lulus SMP.
“Aku bukan anak-anak. Umurku cuma beda satu tahun dari Kanai-san!”
“Artinya, kamu dua tahun lebih muda dariku, kan?”
Rasanya aku pernah mengalami percakapan seperti ini sebelumnya.
“Grrr…”
Meskipun kamu menggeram seperti anjing kecil yang mengancam, itu tetap fakta, jadi terima saja.
"Selain itu, hal seperti itu bukan sesuatu yang pantas dijadikan bahan bercanda."
"Aku tidak bercanda. Kalau itu demi menjadi aktris, aku rela sejauh ini—"
"Iya, iya, aku mengerti. Tapi untuk sekarang, makan malamnya jauh lebih menarik."
"Mou, Kanata-san memang jahat!"
Sambil menenangkan Yuu yang sedang merajuk, aku masuk ke dalam kamar.
Setelah berkumur dan mencuci tangan di kamar mandi, aku menuju ruang tamu. Dari dapur tercium aroma rempah-rempah yang menggugah selera.
"Ini... kari?"
"Hari ini aku bisa membeli daging babi dengan harga murah, jadi aku membuat pork curry."
Seperti tadi pagi, Yuu mendorong punggungku pelan hingga aku duduk di kursi. Setelah itu ia meletakkan dua piring kari yang sudah disiapkan di atas meja, menggantung celemek yang dilepasnya di sandaran kursi, lalu duduk di hadapanku.
"Ayo, kita makan."
Kami merapatkan kedua tangan dan mengucapkan, "Itadakimasu," secara bersamaan.
Melihat Yuu makan dengan ekspresi bahagia, tanganku kembali berhenti bergerak.
Aku juga memikirkan hal yang sama saat sarapan tadi.
Cara makan Yuu sangatlah anggun.
Tidak, kalau kupikir-pikir sekarang, bukan hanya saat makan.
Cara dia berdiri menungguku ketika kami bertemu kembali, sudut kemiringan tubuhnya saat membungkuk meminta maaf, bahkan posturnya saat memotong bahan masakan di dapur.
Meskipun tidak sampai bisa disebut seperti seorang putri bangsawan, ada keanggunan yang terasa begitu alami dalam setiap gerak-geriknya.
"Kamu tidak terlalu suka kari, ya?"
"Ah, bukan begitu..."
Mungkin karena aku hanya diam tanpa menyentuh makanan sedikit pun. Yuu menatapku dengan ekspresi khawatir dan bertanya demikian.
Namun sebelum berbicara, ia sudah meletakkan sendoknya dengan rapi di depan dirinya. Melihat itu, sepertinya bukan karena ia sedang bersikap dibuat-buat, melainkan kebiasaan yang sudah tertanam dalam kesehariannya.
Bahkan dibandingkan instruktur etiket yang entah siapa, tata krama Yuu jauh lebih baik.
"Aku cuma terlalu terpukau karena semuanya terlihat begitu indah."
"Eh...?"
Begitu aku mengatakannya, wajah Yuu langsung memerah seperti terbakar.
Sesaat aku sampai khawatir apakah kari yang dimakannya terlalu pedas.
"E-etto... terima kasih. Karena aku berasal dari sekolah khusus putri dan jarang mendapat pujian dari laki-laki, aku jadi malu. Tapi senang rasanya mendengar Kanata-san mengatakan itu."
Sesuai ucapannya, Yuu benar-benar malu setengah mati.
Entahlah...
Aku merasa ada sedikit kesalahpahaman di antara kami.
Aku mengerti kalau seseorang bisa malu saat dipuji oleh lawan jenis, tapi apa sampai harus semerah itu?
Seolah-olah dia mengira aku baru saja memuji penampilannya.
"...Penampilan?"
Memang, kalau dipikir-pikir, postur dan gerak-gerik seseorang juga bisa termasuk bagian dari penampilan, tapi...
Catatan: Di sini lucunya berasal dari salah paham. Kanata sebenarnya memuji sikap, tata krama, dan gerak-gerik Yuu yang anggun, sedangkan Yuu mengira dia sedang dipuji kecantikan/penampilan fisiknya, makanya reaksinya jauh lebih malu dari yang Kanata perkirakan.
"Bukan, bukan begitu. Yang kupuji bukan penampilan fisikmu, melainkan cara dudukmu saat makan dan gerak-gerikmu yang anggun—eh, tentu saja bukan berarti aku bilang penampilanmu tidak cantik..."
Di saat itulah aku akhirnya menyadari alasan Yuu begitu malu.
Merasa cara bicaraku tadi terdengar tidak sopan bagi seorang gadis, aku buru-buru mencoba memperbaikinya. Namun semakin banyak aku menjelaskan, semakin terasa seperti sedang menggali kuburanku sendiri.
Mungkin melihat reaksiku lucu, Yuu menutup mulutnya dengan tangan sambil tertawa kecil.
"Bagaimanapun juga, aku tetap senang mendengarnya, jadi tidak apa-apa."
Mendengar itu, aku akhirnya bisa bernapas lega.
"Maaf sudah membuatmu salah paham. Tapi tenang saja, aku tidak membenci kari. Malah aku sangat menyukainya. Hanya saja, ada alasan lain kenapa tanganku tadi berhenti bergerak selain karena aku terpukau melihatmu..."
Bahkan, alasan itu mungkin jauh lebih besar.
"Sudah lama sekali aku tidak makan kari..."
Sampai sekarang aku masih mengingat dengan jelas hari terakhir kali aku memakannya.
Itu adalah sehari sebelum audisi terakhir yang kuikuti sebelum pensiun sebagai aktor.
Sejak masih menjadi aktor cilik hingga hari aku pensiun, setiap malam sebelum audisi, ibuku selalu membuatkan katsu curry untukku.
Itu adalah menu keberuntungan yang disantap seluruh keluarga sambil berdoa agar aku lolos audisi.
Bukan hanya menu pembawa keberuntungan, kari itu juga merupakan simbol kebersamaan keluargaku.
Catatan: Ada permainan kata dalam 「カツカレー」 (katsu curry). Kata katsu (勝つ) terdengar sama dengan kata Jepang yang berarti "menang", sehingga makanan ini sering dianggap makanan pembawa keberuntungan sebelum ujian, pertandingan, atau audisi. Karena itu diterjemahkan sebagai "menu keberuntungan" agar maknanya tersampaikan dalam bahasa Indonesia.
"Kalau dipikir-pikir, kari itu bukan makanan yang dibuat hanya untuk satu orang, kan? Rasanya lebih seperti makanan yang dimasak dalam jumlah banyak lalu dimakan bersama keluarga. Bisa dibilang juga salah satu menu yang paling mewakili meja makan keluarga... Tentu saja sekarang aku bisa membeli kari instan atau pesan satu porsi lewat layanan antar, tapi entah kenapa aku tidak pernah merasa ingin memakannya sendirian."
"Begitu ya..."
Sama seperti saat sarapan tadi, suasana menjadi sedikit canggung.
Padahal aku tidak berniat membawa pembicaraan ke arah yang melankolis.
"Kalau begitu, lain kali aku akan mencoba memikirkan masakan lain yang bisa dinikmati berdua."
"Eh...?"
"Karena sekarang ada teman makan, kan? Menurutku makanan yang bisa dinikmati bersama pasti terasa lebih enak. Selain kari, mungkin stew juga bagus... Ah, kalau nanti musim dingin tiba, makan nabe bersama juga menyenangkan, ya!"
Yuu bahkan sampai lupa melanjutkan makannya karena sibuk memikirkan berbagai menu dengan serius.
Memang, bagi seseorang yang hidup sendiri sepertiku, makanan yang bisa dinikmati bersama orang lain terdengar cukup menarik.
Tapi...
"Pas musim dingin nanti? Jangan bilang kamu berniat terus tinggal di sini sampai musim dingin datang?"
"Aku tidak akan mengembalikan kuncinya sampai mendapat jawaban yang kuinginkan."
"Tolonglah..."
Padahal pagi tadi aku memberikan kunci itu bukan karena menerima ajakannya untuk tinggal bersama.
Namun sekarang semuanya sudah terlambat.
Aku tak bisa menahan diri untuk menyesal karena telah membawanya masuk ke kamar ini dengan perasaan yang sama seperti saat menolong anak anjing terlantar.
Dalam hati, aku berjanji tidak akan pernah lagi membawa pulang gadis yang mirip anak anjing terlantar seperti dirinya.
Catatan: Di sini 野良犬 (norainu) berarti "anjing liar/anjing terlantar", dan Kanata sedang bercanda membandingkan Yuu dengan anak anjing yang dipungut lalu malah betah tinggal di rumahnya. Jadi maksudnya bukan menghina, melainkan keluhan setengah pasrah karena Yuu yang keras kepala dan terus menempel padanya. Awokawokawok
0 Komentar