Prolog
Itu terjadi pada musim semi tahun ketiga SMA.
Suatu hari di awal April, ketika bunga sakura yang bermekaran penuh mulai berguguran.
Saat matahari yang mulai tenggelam perlahan mewarnai kota dengan cahaya senja kemerahan.
“...Siapa?”
Sepulang kerja dan kembali ke apartemen, aku melihat seorang gadis asing berdiri di depan kamarku.
Dilihat dari seragam yang dikenakannya, dia mungkin siswi SMA. Tapi apartemen ini hanya dihuni pria yang tinggal sendirian. Jangankan siswi SMA, wanita muda saja hampir tidak ada yang tinggal di sini.
Aku sempat bertanya-tanya apa yang dilakukan seorang siswi SMA di depan kamarku.
“...Apa Anda Kanata Souma?”
Begitu menyadari kedatanganku, gadis itu mengangkat wajahnya dan menatapku seolah memastikan sesuatu.
Yang keluar dari bibirnya adalah namaku.
Namun sebelum sempat memikirkan kenapa dia mengenalku, aku lebih dulu kehilangan kata-kata.
Wajah gadis itu sangat mirip dengan seseorang yang pernah kukenal dulu.
“Anda Souma Kanata, benar?”
Sambil menyebut namaku pelan, dia berjalan mendekat.
Bahkan suara lembut yang menggelitik telinga itu terasa begitu familiar hingga tak menyisakan keraguan.
Rambut panjangnya berkilau keemasan diterpa cahaya matahari senja. Wajah cantik dan tubuh proporsional yang pernah dipuji sebagai gambaran wanita ideal modern itu masih tetap sama seperti dulu.
Kecantikannya bahkan cukup untuk membuat siapa pun yang berpapasan dengannya tanpa sadar menoleh dan terpaku.

0 Komentar