PROLOG
【Takumi Fujimiya】
| “Rasanya tugas PR sejak naik kelas dua jadi makin banyak banget nggak sih?”
Dengan nada bercampur helaan napas, Honoka mengeluh kesal.
Aku cuma membalas, “Iya juga, ya,” dengan respons yang benar-benar datar dan nggak menarik.
| “PR matematika tiap hari itu capek banget, tau nggak sih~”
| “Masa sih, paling juga nggak sampai tiga puluh menit selesai.”
| “Ya Itu karena Takumi jago matematika, kan? Aku mah kagak.”
| “Padahal nilai kamu selalu di atas rata-rata.”
| “Yah, soal itu sih aku tetap berusaha secukupnya demi targetku.”
| “Target? Target apa?”
| “Rahasia~”
Perjalanan pulang seperti biasanya. Percakapan ringan tanpa arah jelas.
Waktu berdua yang cuma sekitar sepuluh menit sejak keluar dari stasiun.
Sejak kapan ya, aku mulai menganggap waktu seperti ini begitu berharga?
Kami sudah bersama sejak SD.
Masuk SMP yang sama, lalu lanjut ke SMA yang sama juga.
Setiap pagi berangkat sekolah bersama, dan sepulang sekolah pun kami langsung pulang bareng tanpa mampir ke mana-mana.
Teman masa kecil yang akrab. Seharusnya cuma itu hubungan kami.
Sejak kapan, ya?
Keberadaan Honoka mulai terasa begitu besar bagiku.
Sejak kapan aku jadi tanpa sadar terus memperhatikannya?
| “Ngomong-ngomong, eh, kamu tahu nggak?”
Suara Honoka terdengar antusias. Aku hanya diam menunggu kelanjutan ceritanya.
| “Chika-chan, katanya ditembak, lho. Sama senior klubnya.”
| “waaah... iyakah, Chika-chan, yah.”
| “Eh serius? Ini udah bulan Mei, tau? Masa teman sekelas sendiri aja masih nggak hafal setelah sebulan...”
| “Ya gimana, aku cuma manggil kamu pakai nama depan. Kasih tahu nama marganya dulu.”
| “Miyagi Chika-chan.”
| “Oh, Miyagi-san toh. Oke, oke.”
| “Kalau aku Makabe Honoka.”
| “Ya aku juga udah tahu.”
| “Tetap harus kenalan dulu dong.”
Saat tertawa, bahunya pelan menyenggol lenganku.
Honoka memang tipe yang jarak personalnya dekat... atau lebih tepatnya, dia memang gampang akrab dengan orang lain.
Tapi tetap saja...
Kalau jaraknya denganku bisa sedekat ini—
Kalau hubungan kami terasa lebih seperti pasangan daripada sekadar teman masa kecil—
Aku ingin percaya kalau itu punya arti spesial.
| “Chika-chan keliatan bahagia banget~ Dari pagi udah salah tingkah gitu.”
| “Honoka jadi pengen punya pacar juga?”
| “Aku? Hmm... kayaknya masih terlalu cepat buatku. Sekarang prioritas utamaku masih kegiatan idol.”
| “Tanda tangan Honoka itu harta paling berhargaku, lho.”
| “Fufu~ nanti juga bakal jadi barang mahal— eh, jangan asal nyambung gitu dong. Aku aja nggak pernah jadi idol, tanda tangan juga belum pernah bikin. Harusnya kamu bilang, ‘Hah? Kamu jadi idol?’ gitu!”
| “Kalau Honoka sih pasti bisa jadi idol. Soalnya kamu imut.”
| “Imu—... T-Takumi, menurutku kamu terlalu memanjakanku itu nggak bagus, ya. Aku tuh nggak imut.”
Kali ini dia menubrukku lebih keras lagi.
Bahasa tubuh penuh protes.
Bagi Honoka, kontak fisik sekecil ini memang nggak punya arti apa-apa, dan sampai beberapa waktu lalu aku juga nggak pernah sadar soal itu.
Tapi sekarang...
| “Kalau nggak imut, mana mungkin ada yang nembak kamu.”
| “Mungkin mereka cuma ngira aku gampang didekati?”
| “Penilaian dirimu tetap rendah seperti biasa, ya... Bulan lalu juga ada yang nembak kamu, kan? Sebelum Golden Week.”
| “Kan udah kuceritain. Langsung kutolak dalam hitungan detik.”
| “Yang keberapa tuh sejak masuk SMA?”
| “Hmm... yang kelima? Mungkin.”
| “Sasuga idol... tetep populer seperti biasa, ya~”
| “Udah ahh! Aku bukan idol tauu! Nggak nyangka bercanda asalku malah bakal diungkit terus begini...”
| “Iya deh iya, maaf. Nggak bakal ku ungkit lagi.”
| “Takumi tuh kadang ternyata suka jahil juga ya... Ah, bentar.”
| “Hm? Kenapa?”
| “Jangan gerak. Tetap gitu aja, ya.”
Aku menghentikan langkah sesuai perkataannya.
Honoka juga ikut berhenti, lalu menatap wajahku lekat-lekat.
...Jarak kami sangat dekat. Aroma manis samar menggelitik ujung hidungku.
Saat aku mulai gugup memikirkan apa yang akan dia lakukan, Honoka mengulurkan tangan dan menyentuh rambutku.
| “Ah, dapet. Apa ini, benang kain?”
Dia meniup pelan benang kecil itu hingga terbang, lalu tersenyum manis.
Sambil tersenyum kecut aku berkata, “Makasih,” dan kami kembali berjalan berdampingan.
...Ya, memang bagian seperti inilah masalahnya.
Honoka benar-benar nggak merasa dirinya imut, dan ucapan tadi soal dirinya di anggap “gampang didekati” mungkin memang serius dari lubuk hatinya.
Dia sendiri nggak sadar kenapa dirinya populer.
Kalau menurutku sih alasannya jelas banget.
Baik ke cowok maupun cewek, dia memang selalu seperti itu.
Seorang gadis imut yang asyik diajak ngobrol akan mendekat tanpa menjaga jarak.
Mau obrolannya sesederhana atau segaring apa pun, dia tetap memberi respons dengan antusias dan tertawa seolah benar-benar menikmatinya.
Sayangnya, hati cowok itu gampang goyah.
Ya, cuma hal sesederhana itu. Tapi batas yang biasanya dijaga kebanyakan cewek terhadap cowok, Honoka lewati begitu saja tanpa sadar dan tanpa beban.
Dia bisa cepat akrab dengan siapa pun. Itulah daya tarik Honoka.
Tapi entah sejak kapan, melihat Honoka bersikap dekat dengan semua orang mulai membuatku merasa gelisah.
| “Ngomong-ngomong, balik ke topik tadi.”
| “Eeh~ kalau soal idol-idolan udahan dong~”
| “Bukan itu. Aku cuma kepikiran... apa kamu nggak pernah galau soal ditembak orang?”
| “Galau? Soal apa?”
| “Soal ditembak.”
| “Aaah... bahas itu lagi... Hari ini kamu aneh banget deh, ngebahasnya panjang terus...”
| “Sesekali aja. Pengen ngobrol soal cinta.”
| “Uuuh... nggak perlu juga sih.... Tapi aku nggak pernah galau kok. Sekali pun nggak.”
| “Serius nggak pernah?”
| “Iya. Ditembak sama orang yang bahkan belum benar-benar kenal aku tuh nggak bikin senang juga. Lagian aku memang nggak niat pacaran.”
| “Tapi siapa tahu nanti ada orang yang bikin kamu tertarik?”
| “Eeh? Hmm... kayaknya nggak ada deh.”
| “Kamu nggak punya orang yang disukai?”
| “Hmm~ no comment.”
| “Berarti ada, ya.”
| “Serius deh, kamu kenapa sih? Biasanya kalau aku ngajak ngobrol soal cinta kamu selalu keliatan nggak tertarik.”
Aku jadi kehilangan kata-kata.
Memang benar.
Kenapa aku terus bertanya dengan nada seperti memancing dan mendesak begini?
...Kenapa? Bukannya jawabannya sudah jelas.
Aku...
| “Ah, kamu khawatir, ya? Tenang aja kok. Aku nggak bakal ketipu cowok aneh. Lagian aku memang nggak berniat pacaran sama siapa pun.”
| “Sama siapa pun?”
| “Iya. Sama siapa pun.”
| “...Tadi kamu bilang kalau ditembak orang yang belum benar-benar kenal kamu itu nggak bikin senang.”
| “Eh? Iya.”
| “Kalau yang nembak itu orang yang benar-benar ngerti kamu... apa kamu bakal goyah?”
| “Eeh~? Hmm.... kalau itu....”
| “Misalnya... aku.”
Honoka membuka mulut seperti hendak menjawab, tapi wajahnya malah membeku tanpa suara.
Dia berhenti melangkah.
Aku juga berhenti beberapa langkah di depan, lalu menoleh ke arahnya.
Menatapnya lurus.
Honoka mengalihkan pandangan, lalu menunduk.
Setelah matanya gelisah ke sana kemari—
dia melirikku pelan dengan tatapan ke atas.
Lalu dengan suara kecil, dia bertanya,
| “Yang barusan itu.... maksudnya... apa?”
Di tempat seperti ini.
Di timing seperti ini.
Nggak ada rencana sedikit pun. Benar-benar cuma terbawa suasana.
| “Ah... bercanda.... Maaf, aku malah nanggepin serius.”
| “Bukan.”
Aku langsung menyangkal ucapan Honoka yang dipaksakan dengan senyum canggung itu.
Mungkin akan lebih baik kalau aku bilang semua itu cuma bercanda.
Mengulang semuanya dari awal, lalu lain kali menyatakannya dengan persiapan yang matang.
Mungkin memang itu yang seharusnya kulakukan.
Tapi aku sudah nggak bisa menahan perasaanku lagi.
Kami cuma teman masa kecil. Seharusnya begitu.
Tapi aku sudah menyadarinya.
Aku... mencintai Honoka—
| “Aku suka sama kamu.”
Honoka kembali membeku.
Dia terus menatapku tanpa berkedip sedikit pun.
Aku sudah mengatakannya. Dan sekarang semuanya sudah nggak bisa dihentikan lagi.
| “Aku suka sama kamu, Honoka.”
Aku nggak mau menyerahkanmu pada siapa pun.
| “Aku nggak mau hubungan kita cuma sebatas teman masa kecil—”
Aku ingin...
| “Jadi pacarmu.”
Karena itu, Honoka—
| “Maukah kamu jadian denganku?”
Honoka tidak menjawab apa-apa.
Dia cuma mengeluarkan suara kecil seperti, “Uu...” atau “Ah....”
Dia mengalihkan pandangan dariku.
Lalu tanpa tujuan membuka isi tasnya.
Mengambil ponselnya, lalu menyimpannya lagi tanpa melakukan apa pun.
Aku hanya diam memperhatikan Honoka yang jelas-jelas panik.
Tanpa berkata apa-apa, aku menunggu jawabannya.
Namun Honoka masih tetap diam.
Jantungku berdegup keras. Sampai terasa sakit.
Honoka menarik napas panjang dan dalam.
Lalu mengangkat wajahnya yang semula tertunduk dan menatapku.
Dari bibirnya yang sedikit gemetar, keluar embusan napas pendek.
| “Ano... ya....”
Suara kecil namun jelas itu sampai ke telingaku bersama napasnya yang goyah.
Setelah jeda sesaat, Honoka kembali menarik napas dalam.
Sambil menggenggam erat tali tasnya—
Honoka akhirnya akan memberikan jawabannya—
| “Aku....”
✧✧✧✧✧✧✧

0 Komentar